Tampilkan postingan dengan label Anjuran Menunaikan Ibadah Haji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anjuran Menunaikan Ibadah Haji. Tampilkan semua postingan
Minggu, 27 Juni 2010
Hadits ke-5
Ibnu Syamasah rah.a. berkata, "Tatkala Amr bin ‘Ash r.a. dalam sakaratul-maut, kami berada di sampingnya. Lama sekali ia menangis. Setelah itu ia menceritakan kisah bagaimana ia masuk Islam. la berkata, 'Ketika Allah swt. memasukkan di dalam hatiku keinginan untuk masuk Islam, aku pergi kepada Rasulullah saw. dan berkata, 'Ya Rasulullah, ulurkanlah tanganmu supaya aku berbai'at kepadamu.' Kemudian ketika Rasulullah saw. mengulurkan tangannya, aku menarik tanganku. Maka Rasulullah saw. bertanya, 'Wahai Amr, apa yang terjadi denganmu?' 'Aku ingin mengajukan syarat Ya Rasulullah.' jawabku. Lalu beliau bertanya, 'Syarat apakah yang ingin engkau ajukan?' Aku menjawab, 'Syaratnya, Allah swt. mengampuni dosa-dosaku yang telah lalu.' Maka Rasulullah saw. bersabda, 'Tidak tahukah engkau bahwa Islam menghapuskan dosa yang dilakukan dalam kekafiran, hijrah menghapuskan dosa yang dilakukan ketika belum hijrah, dan haji menghapuskan dosa yang dilakukan sebelum haji.'" ( At-Targhib )
Keterangan
Di dalam hadits di atas, selain pembahasan apakah yang akan diampuni itu dosa kecil atau dosa besar, sebagaimana telah dibahas dalam hadits pertama, ada dua perkara yang perlu diperhatikan. Pertama, hak seseorang atas kita. Kedua, dosanya melanggar hak tersebut. Dengan melakukan haji atau ibadah lainnya, hanya dosa saja yang diampuni, sedangkan melanggar hak tidak diampuni. Misalnya, mencuri harta orang lain. Di dalamnya ada dua perkara. Pertama, harta yang dicuri. Kedua, dosa melakukan pencurian. Dalam contoh di atas, diampuninya dosa bukan berarti harta yang dicuri itu tidak harus dikembalikan, akan tetapi harta yang dicuri harus dikembalikan kepada pemiliknya.
Sebuah hadits menyebutkan bahwa pada sore hari Arafah di padang Arafah, Rasulullah saw. berdoa kepada Allah swt. dengan merengek-rengek agar Allah swt. mengampuni umatnya. Lama sekali beliau berdoa, akhirnya doa beliau dikabulkan oleh Allah swt.. Allah swt. berfirman, “Dosa-dosa hamba-Ku kepada-Ku, Aku akan mengampuninya. Adapun kezhaliman antar mereka tetap akan dituntut. Setelah itu, Rasulullah saw. berdoa lagi dan berkali-kali beliau berdoa, ‘Ya Allah, Engkau berkuasa memberi ganti kepada orang yang dizhalimi dan mengampuni orang yang berbuat zhalim.’ Pagi harinya, doa ini juga dikabulkan oleh Allah swt.. Maka pada waktu itu Rasulullah saw. tersenyum. Para sahabat r.a. bertanya, “Ya Rasulullah, pada saat seperti ini tidak biasanya engkau tersenyum. Lalu mengapa engkau tersenyum?” Rasulullah saw. menjawab, “Ketika syaitan mengetahui bahwa Allah swt. menerima doaku, ia menaburkan debu di atas kepalanya sambil menjerit-jerit.” (At-Targhib).
Bab 1 Anjuran Menunaikan Ibadah Haji. Hadits ke-4
Hadits ke-4
Thalhah r.a, meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Kecuali pada hari perang Badar, tidak ada hari ketika syaitan tampak lebih hina, lebih tersisih, lebih rendah, dan lebih marah daripada hari Arafah. Semua itu karena ia melihat rahmat Allah swt. turun dengan melimpah dan Allah swt. mengampuni dosa-dosa besar pada hari itu ( Hari Arafah ).” ( Misykat )
Keterangan
Sangat masuk akal jika syaitan sangat marah, sedih, dan merasa hina pada hari Arafah, karena sepanjang hidupnya ia telah berusaha menyesatkan manusia dengan susah payah, sehingga banyak sekali manusia yang melakukan maksiat. Sedangkan pada hari itu, semua dosa tersebut telah dihapuskan oleh cucuran rahmat Allah swt..
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa syaitan menyuruh pasukannya duduk di jalan-jalan yang dilalui oleh jamaah haji untuk menyesatkan mereka dari jalan yang. lurus. ( Kanzul-Ummal )
Imam Ghazali rah.a. telah menulis kisah tentang seorang wali yang ahli kasyaf. Diceritakan bahwa wali tersebut melihat syaitan dalam keadaan lemah pada hari Arafah, wajahnya pucat, kedua matanya mencucurkan air mata, dan badannya bungkuk, tidak bisa berdiri tegak. Sang wali bertanya, “Mengapa kamu menangis?” Syaitan menjawab, “Aku menangis karena jamaah haji berkumpul di hadapan Allah swt. tanpa tujuan dunia sedikit pun ( berdagang atau yang lainnya ). Aku takut dan khawatir jika Dzat Yang Mahasuci mengampuni mereka semua. Karena sangat sedih memikirkan hal itu, maka aku menangis.” Sang wali bertanya lagi, “Lalu mengapa badanmu kurus?” Syaitan menjawab, “Badanku kurus disebabkan oleh bunyi telapak kaki kuda yang bergerak di jalan Allah swt. ( haji, umrah, jihad, dan sebagainya ) setiap waktu. Alangkah baiknya jika kendaraan-kendaraan itu berjalan di atas jalanku ( permainan, pekerjaan, maksiat, bisnis yang haram, dan sebagainya ), sehingga aku sangat gembira.” Sang wali bertanya, “Mengapa wajahmu pucat?” Syaitan menjawab, “Karena orang-orang saling menganjurkan berbuat kebaikan dan tolong-menolong dalam kebaikan. Alangkah menyenangkannya jika mereka tolong-menolong dalam berbuat dosa.” Sang wali bertanya lagi, “Mengapa punggungmu bungkuk?” Syaitan menjawab, “Karena orang-orang selalu berdo’a, ‘Ya Allah, jadikanlah akhir hayatku dalam kebaikan.” Dan apabila seseorang memikirkan akhir hayatnya, maka mustahil ia akan sombong dengan amalan baiknya ( sehingga amalannya akan rusak ).”
Diposting oleh GUNTUR TALKS. di 20.29 0 komentar
Bab 1 Anjuran Menunaikan Ibadah Haji. Hadits ke-3
Hadits ke-3
‘Aisyah r.ha. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada hari ketika Allah swt. membebaskan banyak ruh dari neraka daripada hari Arafah: Pada hari itu, Allah swt. dekat (ke bumi), kemudian untuk membanggakan ruh-ruh tersebut di hadapan para malaikat, Allah swt. berfirman, “Apakah yang dikehendaki oleh hamba-hamba-Ku ini?” (H.R. Muslim; Misykat).
Keterangan
Hanya Allah swt. Yang Maha Mengetahui tentang hakikat dekatnya Allah swt. ke bumi, turunnya Allah ke langit dunia, dan yang serupa dengannya yang termuat di dalam hadits-hadits Rasulullah saw.. Allah swt. senantiasa dekat dengan hamba-Nya. Ditinjau dari makna dhahirnya, Dia Mahasuci dari sifat naik ke atas dan turun ke bawah. Para ulama mengartikan kata-kata tersebut sebagai turunnya rahmat. Pembahasan sebagaimana yang termuat dalam hadits di atas banyak dijumpai di dalam hadits-hadits yang lain. Sebuah hadits menyebutkan, “Ketika hari Arafah, Allah swt. turun ke langit yang paling bawah, lalu berfirman kepada para malaikat dengan penuh bangga, ‘Lihatlah hamba-hamba-Ku itu, mereka telah datang kepada-Ku dengan rambut yang kusut karena perjalanan yang jauh, badan dan pakaian mereka penuh dengan debu, mereka menyerukan ‘Labbaik Allahumma Labbaik’, mereka datang dari tempat yang jauh. Wahai malaikat-malaikat-Ku, Aku menjadikan kalian sebagai saksi bahwa Aku telah mengampuni dosa-dosa mereka. Malaikat berkata, “Ya Allah, di antara mereka ada yang melakukan maksiat, terdapat laki-laki maupun wanita” Allah swt. menjawab, “Aku telah mengampuni mereka semua.” Rasulullah saw. bersabda, “Selain hari Arafah, tidak ada hari ketika Allah swt. membebaskan banyak orang dari api neraka.” (Misykat). Dalam hadits yang lain disebutkan-bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah swt. berfirman, ‘Hamba-hamba-Ku ini telah datang kepada-Ku dengan rambut yang kusut, mereka mengharapkan rahmat-Ku. (Setelah itu, Allah swt. berfirman kepada hamba-hamba-Nya) ‘Seandainya dosa-dosa kalian sebanyak butiran pasir, sebanyak tetesan air hujan, sebanyak daun di seluruh dunia, maka Aku akan mengampuninya. Sekarang, pulanglah kalian dalam keadaan dosa-dosa kalian telah diampuni.” (Kanzul-Ummal) Hadits yang lain menyebutkan bahwa Allah swt. berfirman kepada para malaikat, “Lihatlah, Aku telah mengutus Rasul kepada hamba-hamba-Ku itu, dan mereka telah beriman kepadanya. Aku telah menurunkan kitab ke atas mereka, dan mereka pun beriman kepadanya. Bersaksilah bahwa Aku telah mengampuni seluruh dosa mereka.” ( Kanzul-Ummal )
Ringkasnya, pembahasan seperti di atas banyak terdapat di dalam hadits-hadits Rasulullah saw.. Berdasarkan hadits-hadits di atas, para ulama berpendapat bahwa dengan menunaikan ibadah haji bukan dosa kecil saja yang diampuni, akan tetapi juga dosa besar. Dia adalah Raja Yang Maha Berkehendak, sehingga menentang kehendak-Nya merupakan perbuatan yang berdosa. Bila Dia mengampuni seseorang atau segolongan manusia, maka dengan karunia-Nya, hal itu bukan merupakan perkara yang mustahil, dari tak seorang pun yang dapat membantah-Nya.
Qadhi Iyadh rah.a. menulis satu kisah di dalam kitabnya Asy-Syifa, bahwa sekelompok orang telah mendatangi Sa’dun Khaulani rah.a.. Mereka bercerita bahwa orang-orang dari suku Kutamah telah membunuh seseorang dan mencoba untuk membakarnya. Sepanjang malam, jenazahnya dibakar di dalam api. Tetapi anehnya, api itu tidak dapat membakarnya sedikit pun, bahkan badannya tetap putih. Sa’dun rah.a. berkata, ‘Mungkin ia telah menunaikan haji tiga kali.’ Orang-orang berkata, ‘Benar, ia telah menunaikan ibadah haji sebanyak tiga kali.’ Kemudian Sa’dun rah.a. berkata, ‘Telah sampai kepadaku hadits yang bunyinya, ‘Barangsiapa menunaikan ibadah haji satu kali, berarti ia telah menunaikan kewajibannya. Bila ia pergi berhaji untuk kedua kalinya, maka ia telah mengutangi Allah swt.. dan bila ia menunaikan haji untuk ketiga kalinya, maka Allah swt. mengharamkan kulit dan rambutnya dari api.”
Diposting oleh GUNTUR TALKS. di 20.24 0 komentar
Bab 1 Anjuran Menunaikan Ibadah Haji. Hadits ke-2
Hadits ke-2
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (Muttafaq ‘Alaih; Misykat).
Keterangan
Sebagian ulama mengatakan bahwa Haji Mabrur adalah haji yang di dalamnya tidak terdapat perbuatan maksiat. Oleh karena itu, kebanyakan ulama menerjemahkannya dengan haji yang makbul. Maksudnya, bila ibadah haji dikerjakan dengan menjaga adab-adabnya dan syarat-syaratnya, dan juga di dalamnya tidak ada kesalahan yang dilakukan, insya Allah haji itu akan diterima. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir r.a. disebutkan bahwa kebaikan haji terletak di dalam memberi makan orang lain dan berbicara dengan ramah. Hadits yang lain menyebutkan bahwa kebaikan haji terletak dalam memberi makan orang lain dan menyebarkan salam. (Targhib) Hadits yang lain menyebutkan, ketika Rasulullah saw. memberitahukan bahwa tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga, para sahabat r.a. bertanya, “Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud haji yang mabrur itu?” Beliau menjawab, “Memberi makan dan menyebarkan salam.” ( Kanzul Ummal )
Diposting oleh GUNTUR TALKS. di 20.20 0 komentar
Bab 1 Anjuran Menunaikan Ibadah Haji. Hadits ke-1
Hadits ke-1
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa menunaikan ibadah haji untuk mendapatkan keridhaan Allah swt, dan ia tidak mengucapkan perkataan maksiat dan tidak melakukan perbuatan keji, maka ia akan kembali dalam keadaan bersih dari dosa sebagaimana pada hari ketika ibunya melahirkannya.” ( H.R. Muttafaq ‘Alaih; Misykat )
Keterangan
Ketika bayi baru lahir, ia dalam keadaan maksum, tidak mempunyai dosa sedikit pun. Seperti inilah hasilnya haji yang dikerjakan semata-mata karena Allah swt.. Berdasarkan hadits-hadits tentang haji, sebagian ulama mengatakan bahwa dosa yang diampuni dengan ibadah haji adalah dosa besar dan dosa kecil. Akan tetapi, kebanyakan ulama berpendapat bahwa yang diampuni adalah dosa-dosa kecil saja. Sebagaimana telah dijelaskan di permulaan kitab Fadhilah Shalat, yang dimaksud diampuninya dosa sebagaimana disebutkan dalam hadits ini adalah dosa-dosa kecil. Di dalam hadits di atas, Rasulullah saw. menyebutkan tiga perkara. Pertama, Ibadah haji hendaknya dikerjakan semata-mata karena Allah swt., jangan ada tujuan keduniaan, baik untuk mencari ketenaran atau yang lain. Banyak sekali dijumpai orang yang menunaikan haji untuk mencari ketenaran dan kehormatan. Orang seperti itu telah memubazirkan harta karena ia tidak mendapatkan pahala dari hajinya itu, meskipun dengan cara seperti itu kewajiban haji telah gugur dari pundaknya. Namun jika haji dikerjakan dengan ikhlas, di samping kewajiban haji akan gugur dari tanggungannya, pahala yang besar juga akan diperoleh. Dengan demikian, betapa besarnya kerugian yang ditanggung oleh orang yang menyia-nyiakan pahala yang sangat besar hanya karena ingin menjadi terkenal di kalangan beberapa orang saja. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Menjelang hari kiamat nanti, orang-orang kaya dari kalangan umatku akan menunaikan ibadah haji dengan tujuan berekreasi dan bersenang-senang (yakni daripada melancong ke Paris lebih baik melancong ke Hijaz). Dan orang kelas menengah dari kalangan umatku akan berhaji dengan maksud untuk berdagang, mereka membawa barang dagangan dari sini ke sana dan dari sana ke sini. Para ulama berhaji dengan tujuan untuk ditunjuk-tunjukkan kepada orang lain dan mencari ketenaran ( bahwa Pak Kyai anu telah pergi haji lima kali atau sepuluh kali ) . Dan orang-orang miskin pergi berhaji dengan tujuan untuk meminta-minta.” ( Kanzul Ummal ) Para ulama menulis bahwa orang-orang yang melakukan haji badal untuk mendapatkan upah, yakni bertujuan mendapatkan manfaat dunia termasuk dalam golongan orang yang melakukan haji untuk berdagang. Masalah ini juga akan dibicarakan dalam keterangan hadits ke-15. Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa para penguasa dan para raja pergi berhaji dengan tujuan bersenang-senang, orang kaya dengan tujuan berdagang, orang miskin bertujuan meminta-minta, dan ulama bertujuan mencari kemasyhuran.” (Ithaaf)
Di antara kedua hadits di atas tidak ada pertentangan, karena pengertian orang kaya dalam hadits pertama adalah orang yang sangat kaya, yang di dalam hadits kedua disebutkan sebagai penguasa. Dan orang kaya yang disebutkan di dalam hadits kedua adalah orang kaya yang tingkatannya di bawah para penguasa yang menurut hadits pertama disebutkan sebagai orang tingkat menengah.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa suatu ketika Umar r.a. sedang duduk di antara Shafa dan Marwah. Tiba-tiba sekelompok orang yang baru saja turun dari untanya datang di Masjid Haram dan bertawaf di sekitar Ka’bah. Kemudian mereka melakukan Sa’i antara Shafa dan Marwah. Setelah selesai, Umar r.a. bertanya kepada mereka dari mana mereka datang. Mereka menjawab bahwa mereka datang dari Irak. Umar r.a. bertanya, “Untuk apa kalian datang kemari?” Mereka menjawab, “Untuk haji.” Dan ketika Umar r.a. bertanya kepada mereka mengenai kemungkinan adanya niat yang lain, mereka menjawab, “Tidak ada.” Maka Umar r.a. berkata, “Mulailah beramal.” Yakni semua dosa kalian yang lalu telah diampuni.
Kedua, dalam hadits di atas disebutkan bahwa dalam menunaikan ibadah haji jangan ada Rafats, yakni perkataan yang keji. Sebelumnya, perkataan Rafats, yang berarti mengucapkan perkataan yang tidak senonoh, telah disebutkan di dalam ayat suci Al-Qur’an. Para ulama telah menerangkan bahwa kalimat ini adalah kalimat yang singkat tetapi padat, termasuk di dalamnya segala macam perkataan yang sia-sia, kotor, dan tidak sopan. Bahkan membicarakan masalah bersetubuh di hadapan istrinya, dan isyarat dengan mata atau tangan yang menunjukkan perkataan yang tidak baik pun termasuk di dalamnya. Dan semuanya itu dilarang karena menimbulkan nafsu dan birahi.
Perkara ketiga yang disebutkan dalam hadits di atas adalah Fusuq, yakni jangan melakukan perbuatan yang keji. Kata ini pun telah disebutkan di dalam ayat sebelumnya. Para ulama telah menerangkan bahwa kalimat ini adalah kalimat yang singkat tetapi padat, yakni meliputi segala macam kemaksiatan kepada Allah swt. dan termasuk juga bertengkar, karena ini merupakan perbuatan yang keji.
Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Kebaikan haji adalah berbicara dengan ramah dan memberi makan.” Maka bertengkar dan berbantah-bantahan dengan jamaah haji yang lain bertentangan dengan sopan santun dalam berbicara. Oleh karena itu sangat penting bagi setiap jamaah haji untuk tidak mengkritik orang lain sesama jamaah haji, tidak berbicara dengan kasar, dan melewati mereka dengan penuh tawadhu’ dan akhlak yang baik. Para ulama menerangkan bahwa akhlak yang baik bukan saja berarti tidak menyakiti orang lain, akan tetapi akhlak yang baik adalah menahan dan bersabar atas kesakitan yang datang dari orang lain.
Kata Safar, ditinjau dari segi bahasa artinya menampakkan. Para ulama menerangkan bahwa mengapa perjalanan dinamakan Safar (dalam bahasa Arab), karena akhlak seseorang akan tampak ketika dalam perjalanan. Umar r.a. berkata kepada seseorang, “Apakah engkau kenal dengan si Fulan, orangnya bagaimana?” Orang itu menjawab, “Ya, saya kenal dia.” Umar r.a. bertanya lagi, “Apakah engkau pernah bepergian bersamanya?” Ia menjawab, “Tidak pernah.” Umar r.a. berkata, “Kalau begitu, engkau tidak kenal dia.” Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa suatu ketika, di hadapan Umar r.a. ada seseorang yang sedang memuji orang lain. Umar r.a. bertanya kepadanya, “Apakah engkau pernah bepergian bersamanya?” Orang itu menjawab, “Tidak pernah.” Umar r,a. bertanya kepadanya lagi, “Apakah engkau pernah melakukan perdagangan dengannya?” Orang itu menjawab, “Belum pernah.” Maka Umar r.a. berkata, “Lalu, dari mana engkau mengetahui keadaannya?” ( Ithaaf .)
Sebenarnya, hanya dengan melakukan perjalanan bersama-sama, akhlak seseorang dapat diketahui. Terkadang secara sepintas, akhlak seseorang tampak baik, akan tetapi di dalam perjalanan sering terjadi kesusahan yang membawa kepada pertengkaran. Oleh karena itu, di dalam Al-Qur’an disebutkan secara khusus, ‘Dan jangan berbantah-bantahan’ dalam menunaikan haji.
Diposting oleh GUNTUR TALKS. di 20.18 0 komentar
Senin, 14 Desember 2009
Bab I Anjuran Menunaikan Haji. Ayat ke-4
Ayat ke-4
“Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan juga Aku sempurnakan kenikmatan-Ku kepadamu. Dan Aku pun telah rela bahwa Islam menjadi agama bagimu.” (Q.s. Al-Maidah: 3)
Keterangan
Salah satu keutamaan haji yang terbesar adalah bahwa ayat ini, yang di dalamnya terdapat berita gembira yang menyatakan bahwa agama telah disempurnakan, diturunkan pada musim haji. Imam Ghazali rah.a. di dalam kitabnya, Ihya’ Ulumuddin menuliskan bahwa haji adalah salah satu rukun Islam, yang dengannya rukun-rukun agama diakhiri. Islam telah disempurnakan, dan pada musim hajilah ayat Al-yauma akmaltu lakum diinakum diturunkan. Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa suatu ketika, seorang alim dari kaum Yahudi berkata kepada Umar r.a., “Kalian membaca satu ayat di dalam Al-Qur’an. Seandainya ayat tersebut diturunkan kepada kami, maka kami akan merayakannya setiap tahun.” Umar r.a. bertanya, “Ayat yang mana?” Ia menjawab, “Al-yauma akmaltu lakum diinakum.” Umar r.a. berkata, “Aku tahu di mana dan kapan ayat ini diturunkan. Alhamdulillah, pada hari itu ada dua hari raya berkumpul menjadi satu. Pertama, hari Jumat (karena hari Jumat adalah hari raya bagi umat Islam). Kedua, hari Arafah (ia juga merupakan hari raya, khususnya bagi jamaah haji). Ayat ini diturunkan pada hari Jumat setelah Ashar, ketika Rasulullah saw. sedang duduk di atas unta betinanya di padang Arafah. Dan sesungguhnya, apa yang disampaikan di dalam ayat ini merupakan berita gembira yang sangat besar. Disebutkan di dalam sebuah hadits bahwa setelah turunnya ayat ini tidak turun lagi hukum yang baru mengenai halal dan haram. Jika dalam menunaikan ibadah haji seseorang berpikiran bahwa agamanya akan sempurna, karena haji adalah penyempurna agama, maka ia akan menunaikan haji dengan penuh semangat dan gairah.
Ketika ayat ini diturunkan, Rasulullah saw. sedang duduk di atas unta betinanya. Karena beban wahyu sangat berat, maka unta yang ditunggangi Rasulullah saw. terduduk, tidak mampu berdiri. Maksudnya, ketika wahyu diturunkan kepada Rasulullah saw., berat beliau akan bertambah secara luar biasa. ‘Aisyah r.ha. berkata, “Bila Rasulullah saw. sedang berada di atas unta pada saat wahyu diturunkan, maka unta tersebut akan menundukkan lehernya, dan selama wahyu belum selesai, unta tersebut tidak bisa bergerak sedikit pun.” Abdullah bin Amr r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ketika wahyu diturunkan, aku berpikir bahwa ruhku akan keluar.” (Durrul Mantsur) Zaid bin Tsabit r.a. berkata ketika ayat:
“Tidak sama orang-orang mukmin yang tidak berperang tanpa halangan dengan mereka yang benar-benar berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah memberikan karunia kepada yang berjihad dengan harta dan jiwa melebihi orang yang tidak ikut berjihad. Masing-masing mendapat pahala yang baik. Allah memberikan kelebihan kepada orang-orang yang berjihad daripada yang tidak ikut berperang dengan pahala yang besar.” ( Q.S. An-Nisaa’: 95 ) diturunkan, aku berada di samping Rasulullah saw. Karena beratnya wahyu, Rasulullah saw. dalam keadaan setengah pingsan, sehingga beliau saw. meletakkan pahanya di atas pahaku, dan karena badan Rasulullah saw. menjadi berat karena wahyu, maka pahaku pun terasa hampir patah.” ( Durrul-Mantsur ). Inilah keagungan dan kehebatan Kalamullah, akan tetapi kita membacanya dengan hati yang lalai, seakan-akan hanya sebagai kalam biasa. Pembicaraan mengenai ayat-ayat suci Al-Qur’an kita cukupkan sampai disini. Selanjutnya akan saya tuliskan beberapa hadits beserta terjemahannya.
Diposting oleh GUNTUR TALKS. di 11.34 0 komentar
Rabu, 14 Oktober 2009
Bab I Anjuran Menunaikan Ibadah Haji. Ayat ke-3

“ Ibadah haji dilaksanakan pada bulan – bulan tertentu. Barangsiapa yang berhaji pada bulan-bulan itu, dilarang berperilaku yang merangsang atau berbuat fasik, atau bertengkar selama berhaji. Apapun kebaikan yang kamu lakukan, Allah pasti mengetahuinya. Dan berbekallah kamu, dan bekal yang terbaik adalah taqwa. Dan bertaqwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang cerdik.” ( QS Al Baqarah : 197 ).
Keterangan:
Di dalam ayat di atas, kata “ Rafats” bermakna mengeluarkan perkataan yang tidak senonoh yang menimbulkan birahi. Rafats ada 2 macam: Pertama, mengeluarkan perkataan yang tidak senonoh, yang sebelumnya sudah dilarang, sehingga dengan mengucapkannya ketika haji, dosanya menjadi bertambah. Kedua, perkataan yang boleh dilakukan di luar waktu haji, tetapi dilarang saat melaksanakan haji. Misalnya mengucapkan kata-kata rayuan kepada istrinya sendiri yang membangkitkan birahi.
Begitu juga perkataan fusuq yang bermakna keji terbagi dua: Pertama, perbuatan yang sebelumnya sudah dilarang di luar waktu haji, dengan melakukannya pada waktu berhaji, maka dosanya menjadi semakin bertambah. Kedua, perbuatan yang jika di luar waktu haji boleh dilakukan, tetapi tidak boleh dilakukan saat melaksanakan haji, misalnya memakai minyak wangi. Begitu pula jidal ( berdebat ), merupakan perbuatan yang buruk, pada waktu haji, nilai keburukannya menjadi semakin bertambah. ( Sumber : Kitab Bayaanul Qur’an ). Walaupun bertengkar itu sudah masuk dalam kategori perbuatan keji, karena dalam pelaksanaan haji seringkali terjadi pertengkaran antar sesama jamaah haji, maka di dalam ayat ini disebutkan secara khusus, supaya orang-orang memperhatikannya.
Diposting oleh GUNTUR TALKS. di 12.58 0 komentar
Bab I Anjuran Menunaikan Haji. Ayat ke-2
“ Dan ( ingatlah ), ketika Ibrahim meninggikan ( membina ) dasar-dasar Baitullah beserta Ismail…” ( QS Al Baqarah 127 )
Di dalam ayat sebelumnya telah diterangkan bahwa Allah SWT telah menunjukkan kepada Ibrahim a.s. bekas Baitullah. Dan atas perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim membangun kembali Ka’bah. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ketika Allah SWT menurunkan Nabi Adam a.s. dari surga, Dia juga menurunkan Rumah-Nya bersama Nabi Adam a.s. dan berfirman,” Wahai Adam, Aku menurunkan Rumah-Ku bersamamu, lakukanlah thawaf di sekelilingnya sebagaimana thawaf di sekeliling Arsy-Ku, dan kerjakanlah shalat menghadap ke arahnya sebagaimana shalat dikerjakan menghadap ke arah Arasy-Ku.” Kemudian ketika terjadi banjir besar pada zaman Nabi Nuh a.s., rumah itu telah diangkat. Setelah itu, para Nabi tetap melakukan thawaf di tempat itu meskipun sudah tidak ada lagi bangunannya. Baru pada zaman Nabi Ibrahim a.s. , Allah memerintahkan kepada beliau untuk membangun kembali Baitullah, dan Allah swt sendiri yang menentukan tempatnya. ( Sumber: Kitab Targib ). Hadits yang lain menyebutkan bahwa ketika Nabi Ibrahim a.s. menyelesaikan pembangunan Baitullah, beliau melaporkannya kepada Allah SWT. Lalu Allah SWT menyuruhnya supaya menyeru manusia agar menunaikan ibadah haji, sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat di atas. Ketika menerima perintah seperti itu, Nabi Ibrahim a.s. berkata,” Wahai Allah SWT, bagaimana mungkin suaraku bisa sampai kepada mereka?” Allah SWT menjawab,” Menyampaikan suaramu kepada mereka adalah tanggung jawab Kami.” Kemudian Nabi Ibrahim a.s. pun menyeru manusia sehingga semua yang ada di antara langit dan bumi mendengarnya.
Hari ini, bahkan suara radio bisa sampai dari satu negeri ke negeri yang lain. Apabila pembuat radio menghendaki untuk menyampaikan suara radionya ke tempat yang jauh, tentunya tidak perlu diragukan/ disangsikan dengan seruan Nabi Ibrahim a.s. Hadits yang lain menyebutkan bahwa seruan Ibrahim a.s. didengar oleh semua orang, dan semuanya mengucapkan ‘Labbaik’, yang artinya ‘aku datang’, dan Labbaik inilah yang diucapkan oleh semua jamaah haji ketika ihram. Orang yang ditakdirkan oleh Allah SWT untuk menunaikan ibadah haji, ketika mendengar seruan itu akan menjawabnya dengan ucapan ‘Labbaik’.
( Sumber: Kitab Ithaaf ).
Hadits yang lain menyebutkan bahwa barangsiapa yang mengucapkan ‘Labbaik’ pada waktu itu, baik ia sudah lahir ke alam dunia ataupun masih di alam arwah, ia pasti akan menunaikan ibadah haji. Di dalam hadits yang lain disebutkan bahwa barangsiapa yang mengucapkan ‘Labbaik’ satu kali pada waktu itu, maka ia akan menunaikan haji satu kali. Dan barangsiapa yang mengucapkannya dua kali, maka ia akan berhaji 2 kali dan seterusnya. Yakni berapa kali saja seseorang itu mengucapkan Labbaik, maka sebanyak itu pulalah ia akan melaksanakan haji. ( Sumber: Kitab Durrul Mantsur ). Alangkah berbahagianya ruh-ruh yang pada waktu itu mengucapkan Labbaik berulang kali, karena mereka akan menunaikan haji berulang kali pula. Subhanalloh !
Diposting oleh GUNTUR TALKS. di 12.55 0 komentar
Senin, 12 Oktober 2009
Bab I Anjuran Menunaikan Haji. Ayat ke-1
Jumlah ayat Al Qur’an dan hadits Rasulullah saw yang berkaitan dengan keutamaan dan hukum-hukum haji sangatlah banyak. Dalam kitab ini akan dinukilkan beberapa ayat dan hadits, sekedar contoh. Saya ( Maulana Zakariyya rah ) telah berusaha untuk menulis setiap kitab secara ringkas, karena pada zaman sekarang, orang-orang tidak punya banyak waktu untuk membaca kitab-kitab agama dan apabila kitabnya tebal, maka harganya juga mahal, sehingga orang-orang tidak mampu membelinya. Akan tetapi, kalau untuk menonton film dan menyelenggarakan pesta-pesta, maka orang yang paling miskin pun tidak akan kekurangan uang.
Keterangan:
Para ulama berbeda pendapat mengenai orang pertama yang membangun ka’bah, apakah Nabi Adam as ataukah para malaikat. Sehingga sebagian ulama mengatakan bahwa penciptaan bumi bermula dari tempat berdirinya ka’bah sekarang ini. Adapun prosesnya sebagai berikut; pertama-tama hanya ada air, kemudian muncul sesuatu berbentuk buih di atas air, dan dari sanalah bagian bumi yang lain dihamparkan. Akan tetapi bangunan itu telah diangkat ketika terjadi banjir pada zaman Nabi Nuh as. Setelah beberapa masa berlalu, Nabi Ibrahim as berupaya membangunnya kembali dengan dibantu oleh Nabi Isma’il. Kisah ini disebutkan dalam Juz pertama surah Al Baqarah.
Diposting oleh GUNTUR TALKS. di 13.53 0 komentar
Langganan:
Postingan (Atom)







