Tampilkan postingan dengan label Hakikat Haji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hakikat Haji. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Desember 2009

Bab 4 Hakikat Haji Bag 6

Pembicaraan tentang masalah ini akan saya akhiri dengan sebuah kisah yang dikutip oleh penulis kitab Ithaaf. Adapun kisahnya sebagai berikut: Salah seorang murid Syaikh Syibli rah.a. baru pulang dari menunaikan ibadah haji. Maka Syaikh Syibli rah.a. mengajukan beberapa pertanyaan. Si murid menceritakan bahwa Syaikh bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah berniat kuat untuk menunaikan haji?”
Saya menjawab, “Ya, saya telah berniat kuat menunaikan haji.” Syaikh bertanya, “Apakah engkau juga berniat untuk meninggalkan semua kehendak-kehendakmu sejak engkau lahir sampai hari ini yang bertentangan dengan ibadah haji?” Saya menjawab, “Tidak, saya tidak berniat seperti itu.” Syaikh berkata, “Kalau begitu engkau belum berniat haji.” Syaikh bertanya, “Apakah engkau melepaskan pakaian yang ada di badanmu ketika engkau mengenakan pakaian ihram?” Saya menjawab, “Ya, saya telah melepaskan semua pakaian yang saya kenakan.” Syaikh bertanya, “Apakah engkau telah memisahkan segala sesuatu selain Allah swt. dari dirimu ketika itu?” Saya menjawab, “Tidak.” Syaikh berkata, “Lalu apa gunanya melepaskan pakaian?” Syaikh bertanya, “Apakah engkau telah bersuci dengan berwudhu dan mandi?” Saya menjawab, “Ya, saya benar-benar telah bersuci.” Syaikh bertanya, “Pada waktu itu, apakah engkau telah bersih dari segala macam kotoran dan kesalahan?” Saya menjawab, “Kalau yang itu, belum.” Syaikh berkata, “Lalu, kesucian macam apa yang telah engkau hasilkan?” Syaikh bertanya, "Apakah engkau mengucapkan Labbaik?" Saya menjawab, "Ya, saya telah mengucapkan Labbaik." Syaikh bertanya, "Apakah engkau mendapat jawaban Labbaik?" Saya menjawab, "Tidak, saya tidak mendengar jawabannya." Syaikh berkata, "Kalau begitu, engkau belum mengucapkan Labbaik." Syaikh bertanya, "Apakah engkau telah masuk ke tanah Haram?" Saya menjawab, "Ya, saya telah masuk ke tanah Haram." Syaikh bertanya, "Apakah pada waktu itu engkau telah berazam untuk meninggalkan semua perkara yang haram untuk selama-lamanya?" Saya menjawab, "Kalau yang itu saya belum melakukannya." Syaikh bertanya, "Kalau begitu, engkau belum masiik di tanah Haram." Syaikh berkata, "Apakah engkau telah mengunjungi Makkah?" Saya menjawab, "Ya, saya telah mengunjunginya." Syaikh bertanya, "Apakah pada waktu itu engkau ingat kampung akhirat?" Saya menjawab, "Tidak." Syaikh berkata, "Kalau begitu engkau belum mengunjungi Makkah." Syaikh bertanya, "Apakah engkau telah masuk di Masjidil Haram?" Saya menjawab, "Ya, saya telah masuk di Masjidil-Haram." Syaikh bertanya, "Apakah pada saat itu engkau merasa masuk di dekat Allah swt.?" Saya menjawab, "Saya tidak merasa." Syaikh berkata, "Berarti engkau belum masuk di Masjidil-Haram." Syaikh bertanya, "Apakah engkau telah datang di Ka'bah?" Saya menjawab, "Ya, saya telah datang di Ka'bah." Syaikh bertanya, "Apakah engkau melihat sesuatu yang karenanya engkau mendatangi Ka'bah?" Saya menjawab, "Saya tidak melihatnya." Syaikh berkata, "Kalau begitu engkau belum melihat Ka'bah." Syaikh bertanya, "Apakah engkau telah melakukan Raml di dalam Thawaf?" (Raml adalah cara berlarian yang khusus). Saya menjawab, "Ya, saya melakukannya." Syaikh bertanya, "Apakah dalam berlarian itu engkau telah lari dari dunia sehingga engkau merasa bahwa engkau telah terlepas dari dunia?" Saya menjawab, "Saya belum merasakannya." Syaikh berkata, "Kalau begitu engkau belum melakukan Raml." Syaikh bertanya, "Apakah engkau telah mencium Hajar-Aswad dengan meletakkan tangan di atasnya?" Saya menjawab, "Ya, saya telah melakukannya." Maka Syaikh merasa ketakutan dan keluar dari mulutnya suara aah yang panjang. Lalu ia berkata, "Celaka, tahukah engkau bahwa barang siapa yang mencium Hajar Aswad dengan meletakkan tangan di atasnya, seakan-akan ia telah bersalaman dengan Allah swt.. Dan barang siapa yang diajak bersalaman oleh Allah swt., ia dalam keadaan aman dari segala arah. Lalu apakah telah tampak kesan keamanan pada dirimu?" Saya berkata, "Tidak tampak pada diri saya kesan keamanan itu." Syaikh berkata, "Berarti engkau belum meletakkan tanganmu di atas Hajar Aswad." Syaikh bertanya, "Apakah engkau telah mengerjakan shalat sunah dua rakaat di Maqam Ibrahim?" Saya menjawab, "Ya, saya telah mengerjakannya." Syaikh bertanya, "Pada saat itu engkau telah sampai di martabat yang tinggi di hadapan Allah swt., apakah engkau telah menunaikan hak dari martabat itu, dan apakah engkau telah menyempurnakan maksud yang menjadikan engkau berdiri di tempat itu?" Saya menjawab, "Saya tidak melakukan apa-apa." Syaikh berkata, "Kalau begitu engkau belum mengerjakan shalat dua rakaat di Maqam Ibrahim." Syaikh bertanya, "Apakah engkau naik ke bukit Shafa ketika melakukan Sa'i antara Shafa dan Marwah?" Saya menjawab, "Ya, saya telah naik di bukit Shafa." Syaikh bertanya, "Apa yang engkau lakukan di sana?" Saya menjawab, "Saya mengucapkan takbir sebanyak 7 (tujuh) kali dan berdoa supaya haji saya diterima." Syaikh bertanya, "Apakah para malaikat mengucapkan takbir bersama ucapan takbirmu dan apakah mau menyadari akan hakikat takbirmu?" Saya menjawab, "Tidak." Syaikh berkata, "Berarti engkau belum mengucapkan takbir." Syaikh bertanya, "Apakah engkau telah turun dari Shafa?" Saya menjawab, "Ya, saya turun darinya." Syaikh bertanya, "Apakah pada waktu itu engkau telah bersih dari segala keburukan?" Saya menjawab, 'Tidak." Syaikh berkata, "Engkau belum naik di bukit Shafa dan belum turun darinya." Syaikh bertanya, "Apakah engkau berlari antara Shafa dan Marwah?" Saya menjawab, "Ya." Syaikh bertanya, "Pada waktu itu apakah engkau telah berlari dari segala sesuatu dan telah sampai kepada Allah swt.. (Kemungkinan menunjuk kepada ayat dalam surat Syuara' yang menerangkan kisah Nabi Musa a.s. "Aku lari darimu apabila aku takut kepadamu." dan "Dan berlarilah menuju Allah.") Saya menjawab, "Tidak." Syaikh berkata, "Engkau belum berlari antara Shafa dan Marwah." Syaikh bertanya, "Apakah engkau telah naik di bukti Marwah?" Saya menjawab, "Ya, saya telah naik di atasnya." Syaikh bertanya, "Apakah sakinah turun ke atasmu dan engkau mendapatkan sakinah secara sempurna?" Saya menjawab, "Tidak." Syaikh berkata, "Engkau belum naik ke atas bukit Marwah." Syaikh bertanya, "Apakah di sana engkau telah menumpahkan harapan kepada Allah swt. yang tidak disertai dengan perbuatan dosa?" Saya menjawab, "Itu belum bisa." Syaikh berkata, "Engkau belum pergi ke Mina." Syaikh bertanya, "Apakah engkau telah masuk di Masjid Khaif (yang berada di Mina)?" Saya menjawab, "Ya, saya masuk di dalamnya." Syaikh bertanya, "Apakah engkau pada waktu itu merasa takut kepada Allah swt. yang tidak pernah engkau rasakan pada saat yang lain?" Saya menjawab, "Tidak." Syaikh berkata, "Engkau belum masuk di masjid Khaif." Syaikh bertanya, "Apakah engkau telah sampai di padang Arafah?" Saya menjawab, "Ya, saya sampai di sana." Syaikh bertanya, "Waktu di sana, apakah engkau mengetahui apa maksudnya engkau datang di dunia, apa yang sedang engkau kerjakan, dan sekarang mau pergi ke mana, dan apakah engkau mengenali perkara-perkara yang mengingatkan keadaan itu?" Saya menjawab, "Tidak." Syaikh berkata, "Engkau juga belum pergi ke Arafah." Syaikh bertanya, "Apakah engkau telah pergi ke Muzdalifah?" Saya menjawab, "Ya, saya telah pergi ke sana." Syaikh bertanya, "Apakah engkau di sana berdzikir kepada Allah swt. sedemikian rupa sehingga selain Allah swt. terlupakan?" (Sebagaimana yang telah disebutkan oleh ayat "Dan ingatlah Allah di Masy'aril Haram.)" Saya menjawab, "Saya tidak melakukan seperti itu." Syaikh berkata, "Kalau begitu engkau tidak sampai di Muzdalifah." Syaikh bertanya, "Apakah engkau menyembelih binatang kurban di Mina?" Saya menjawab, "Ya." Syaikh bertanya, "Apakah pada waktu itu engkau telah menyembelih nafsumu?" Saya menjawab, "Tidak."

Syaikh berkata, "Berarti engkau belum menyembelih binatang kurban." Syaikh bertanya, "Apakah engkau telah melempar Jumrah (melempar syaitan dengan kerikil)?" Saya menjawab, "Ya, saya telah melempar Jumrah." Syaikh bertanya, "Bersamaan dengan setiap batu apakah engkau telah melemparkan satu kejahilanmu yang lalu dan merasakan bertambahnya ilmu?" Saya menjawab, "Tidak." Syaikh berkata, "Engkau juga belum melempar Jumrah." Syaikh bertanya, "Apakah engkau telah melakukan Thawaf Ifadhah?" Saya menjawab, "Ya, saya telah melakukannya." Syaikh bertanya, "Pada waktu itu adakah suatu hakikat terbuka ke atasmu, dan apakah telah turun ke atasmu kehormatan dan jamuan dari Allah swt.?, karena Rasulullah saw. bersabda, "Orang yang pergi haji dan Umrah adalah orang yang menziarahi Allah swt.. Dan orang yang diziarahi punya kewajiban untukmenuliskan dan menghormati orang-orang yang menziarahinya." Saya menjawab, "Tidak ada sesuatu hakikat yang terbuka kepada saya." Syaikh berkata, "Engkau juga belum melakukan Thawaf Ifadhah." Syaikh bertanya, "Apakah engkau telah bertahallul? (Tahallul adalah melepaskan pakaian ihram). Saya menjawab, "Ya, saya telah bertahallul." Syaikh berkata, "Engkau juga belum bertahallul." Syaikh bertanya, "Apakah engkau telah melakukan Thawaf Wada'?" Saya menjawab, "Ya, saya telah melakukannya." Syaikh bertanya, "Apakah waktu itu engkau telah mengucapkan selamat tinggal dengan sepenuhnya kepada jiwa ragamu (hawa nafsumu)?" Saya menjawab, "Tidak." Syaikh berkata, "Engkau belum melakukan Thawaf Wada'." Kemudian Syaikh berkata, "Pergi hajilah kembali, dan tunaikanlah haji sebagaimana yang telah saya terangkan kepadamu secara terperinci tadi."
Saya mengutip kisah yang panjang ini agar orang-orang mengetahui bagaimanakah hajinya para wali Allah. Semoga Allah swt. dengan limpahan karunia dan rahmat-Nya mengaruniakan kepada hamba yang hina ini haji yang seperti itu. Aamiin.

Read More or Selengkapnya..

Bab 4 Hakikat Haji Bag 5

Selain hikmah-hikmah haji di atas, masih banyak lainnya hikmah yang tidak bisa disebutkan oleh setiap orang. Begitu juga hukum-hukum Allah swt. yang lain juga mengandung hikmah-hikmah yang tidak diketahui oleh semua orang. Di dalam setiap hikmah dari perintah Allah swt. terdapat sekian banyak hikmah sehingga di antara hikmah-hikmah tersebut banyak hikmah yang akal manusia tidak sampai ke sana. Apabila kita mau memikirkan setiap perintah Allah secara mendalam, maka setiap harinya kita akan mengetahui hikmah yang baru dari perintah tersebut. Dan setiap orang akan terus memikirkannya sesuai dengan kefahaman masing-masing. Dilihat dari segi politik, ibadah haji mengandung banyak hikmah bagi para ahli politik sehingga tidak mungkin semuanya dituliskan. Sebagaimana saya telah memberikan isyarat mengenai dua hikmah haji di atas, di sini juga akan saya tulis beberapa hikmah haji. Setiap hikmah, bila dipikirkan dalam-dalam, maka akan menghasilkan ribuan hikmah.
1. Semua orang tahu bahwa semua raja atau pemimpin menginginkan supaya seluruh rakyatnya yang berbeda-beda latar belakangnya bisa berkumpul dalam satu waktu. Untuk mewujudkannya, mereka membuat peringatan terhadap suatu peristiwa, dan mereka memperingatinya setiap tahun atau membuat suatu organisasi yang mengadakan pertemuan setiap tahunnya. Kemaslahatan ini secara sempurna terdapat dalam ibadah haji.
2. Apabila para cendekiawan dari berbagai negara mempunyai pemikiran-pemikiran yang paling bagus untuk memajukan umat Islam, maka kesempatan yang paling bagus untuk menyatukan dan kemudian menyebarkannya adalah pada musim haji.
3. Selain haji tidak ada bentuk hubungan dan persaudaraan yang lebih baik antarumat Islam dari berbagai negara.
4. Bagi pecinta bahasa, mungkin tidak ada kesempatan yang lebih baik daripada musim haji. Karena ia akan menemui orang yang bisa bahasa Arab, Urdu, Turki, Persi, India, Cina, Melayu, Inggris, dan lain-lain di satu tempat.
5. Kehidupan ala tentara yang merupakan syiar khusus kehidupan cara Islam bisa didapati secara sempurna di dalam perjalanan haji, dalam pakaiannya, makannya, dan berjalannya.
6. Para penentang kapitalisme telah berusaha untuk menghilangkan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, tetapi sampai hari ini usaha itu belum berhasil dan belum ditemukan caranya. Tetapi setiap perintah di dalam Islam seperti shalat, puasa, haji, dan zakat, dengan mudah dan jitu telah mewujudkan persamaan antara orang kaya dan orang miskin. Sampai hari ini, bahkan pada masa-masa mendatang, tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada undang-undang Islam, dengan syarat perintah-perintah tersebut dikerjakan sesuai dengan ajaran Islam.
7. Ibadah haji adalah sarana yang paling baik untuk menciptakan persamaan antara seluruh lapisan masyarakat yang berbeda-beda di seluruh dunia. Orang kaya dan orang miskin, penguasa dan rakyat, orang ajam dan orang Arab, orang Turki dan orang Cina, dan sebagainya, semuanya dalam keadaan satu, yaitu memakai pakaian yang sama dan melakukan kesibukan yang sama sampai batas waktu yang ditentukan.
8. Untuk mengadakan perayaan, orang-orang melakukan persiapan, pengumuman, dan pembelanjaan; dan bagi orang Islam, 15 hari pertama dari bulan Dzulhijjah lebih besar daripada perayaan tingkat daerah, padahal untuk itu tidak ada propaganda dan persiapan yang istimewa.
9. Haji adalah kesempatan yang paling bagus untuk menciptakan persaudaraan, kasih sayang, hubungan, perkenalan, dan persatuan antar seluruh orang Islam di seluruh dunia.
10. Pada waktu musim haji, orang-orang yang bersemangat menyebarkan Islam hendaknya bangkit untuk mentablighkan dan menerangkan pentingnya perintah-perintah agama. Dan orang-orang tempatan merasa memiliki kewajiban untuk menjamu orang-orang yang datang dari luar dan berusaha agar tumbuh di dalam diri mereka semangat keagamaan, dan kelemahan atau kemalasan dalam mengamalkan agama akan hilang dari sisi mereka. Begitu juga, orang-orang yang datang dari luar hendaknya menghargai bantuan dan pertolongan orang tempatan itu. Dengan cara itu agama akan cepat tersebar.
11. Bercampur baurnya orang kaya dengan orang miskin adalah sesuatu yang sangat dikehendaki. Karena dengannya akan hilang sifat angkuh dan takabur dari diri orang kaya, dan di lain pihak akan tumbuh di dalam diri orang miskin rasa percaya diri. Bercampur baurnya orang kaya dengan orang miskin terwujud secara sempurna di dalam ibadah haji. Orang-orang kaya akan memerlukan orang miskin di dalam memenuhi keperluan-keperluan badaniahnya, mereka akan merasa kesulitan bila harus memasak makanan sendiri, mengangkat barang sendiri, dan menyiapkan segala keperluan perjalanan. Sebaliknya, orang-orang miskin akan memerlukan orang-orang kaya dalam memenuhi keperluan-keperluan yang ada hubungannya dengan keuangan. Karena satu dengan yang lain saling memerlukan, maka bercampurnya antara orang kaya dan orang miskin terkadang bukan hanya menyebabkan perkenalan di antara mereka, akan tetapi juga menumbuhkan kasih sayang dan persahabatan di antara mereka. Hal itu bisa dilihat secara sempurna di dalam perjalanan haji.
12. Orang yang paling awam sekalipun tahu bahwa berkumpulnya orang-orang Islam, khususnya bila perkumpulan itu dilakukan dengan merendahkan diri, merasa lemah dan tadharu’, maka hal itu akan menarik rahmat Allah swt.. Adapun pemandangan yang paling bagus dalam hal ini adalah ketika musim haji, khususnya ketika orang-orang berkumpul di medan ‘Arafah.
13. Natijah khusus dari perjalanan haji adalah menjaga peninggalan-peninggalan orang-orang terdahulu dan mengetahui serta membayangkan keadaan-keadaan para pendahulu kita, khususnya para nabi ‘alaihimussalam.
14. Dilihat dari segi mata pencaharian, tidak ada sarana yang lebih baik untuk mengetahui keadaan perdagangan di seluruh dunia selain dari perjalanan haji. Bila ingin mengetahui keadaan produksi, tanaman, dan hasil bumi setiap negara secara terperinci, maka bisa didapatkan dengan mudah di dalam perjalanan ini.
15. Dari segi keilmuan, perjalanan haji adalah kesempatan yang sangat bagus. Karena di setiap tempat didapati alim ulama’. Kita bisa mengetahui dengan jelas keadaan keilmuan seseorang, karya-karya ilmiahnya, peningkatan dan penurunannya, serta sebab-sebabnya. Dan kita bisa mengambil faedah dan manfaat dari banyak ulama’.

16. Setiap tahunnya, wali-wali Allah, Abdal, dan para Qutb ikut serta di dalam ibadah haji. Maka, ibadah haji merupakan kesempatan yang paling bagus untuk mendapatkan manfaat dari ruhaniah, barokah, dan nur makrifah mereka.
17. Di dalam ibadah haji, kita bisa meniru makhluk Allah yang maksum, yakni para malaikat yang setiap waktu sibuk bertawaf di sekitar 'Arsy Allah swt.. Dan sesuai dengan hadits, "Barang siapa yang meniru-niru suatu kaum, ia dianggap termasuk dalam golongannya", maka kita telah meniru para malaikat yang setiap saat tidak pernah maksiat kepada Allah swt..
18. Di dalam umat terdahulu, rahbaniyyah adalah suatu amalan yang dianggap sangat hebat dan sangat penting. Akan tetapi, Islam telah melarangnya dan menetapkan haji sebagai gantinya. Oleh karena itu, pada waktu menunaikan ibadah haji dilarang memakai perhiasan dan bersetubuh dengan istri. Jangankan bersetubuh, menyinggung masalah yang berkaitan dengan persetubuhan saja dilarang. (Ithaaf)
19. Menjadi tradisi secara turun-temurun bahwa setiap negara atau daerah mengadakan acara ruwatan yang diadakan sekali dalam setahun. Pada umumnya, tabiat setiap orang cenderung ke arah itu. Mereka menunggu acara tersebut selama setahun. Islam telah menetapkan haji sebagai gantinya untuk orang-orang Islam. Daripada menghabiskan waktu untuk permainan, berhura-hura, dan acara-acara yang menimbulkan suara yang ramai, lebih baik digunakan untuk beribadah. Dengan itu, semangat bermain-main dan bersenda gurau diubah menjadi semangat ketauhidan dan mencari cinta Ilahi.
20. Haji adalah sarana untuk bisa menziarahi tempat-tempat yang penuh berkah dan sekaligus peluang untuk mendapatkan keberkahan-keberkahan. Pada saat itu, ratusan ribu pecinta telah mengorbankan jiwanya dengan menginjakkan kaki dan meletakkan dahi di tempat-tempat itu.
21. Di satu sisi, dengan melakukan perjalanan, akhlak akan menjadi baik dan di sisi lain, bersafar sangat membantu terjaganya kesehatan. Rasulullah saw. bersabda: "Bersafarlah maka kamu akan menjadi sehat." (Kanzul Ummal)
22. Haji adalah kenang-kenangan dan pemelihara ibadah yang selalu ada sejak Nabi Adam a.s. di dalam setiap agama.
23. Dalam perjalanan haji dengan mengunjungi kota Makkah dan Madinah, kita akan teringat masa permulaan Islam ketika orang Islam dalam keadaan lemah dan tertindas, setiap waktu dizalimi dan selalu mendapat berbagai macam penderitaan, tetapi orang-orang Islam selalu menghadapinya dengan penuh kesabaran dan tetap tegar. Juga akan teringat kenangan masa akhir Islam ketika setelah hijrah orang-orang Islam mendapatkan kemenangan. Walaupun pada waktu itu orang-orang Islam telah kuat dan menang, mereka bukan hanya menutup mata atas kezaliman-kezaliman orang-orang kafir, bahkan dengan kebaikan dan keluasan akhlak mereka telah menyebarkan Islam sedemikian rupa sehingga nur Islam telah tersebar di ujung-ujung dunia. Dengan adanya ibadah haji ini, umat Islam mendapat peluang untuk mengingat kedua peristiwa itu.
24. MakkahMukarramah adalah tempat kelahiran Nabi Muhammad saw.. Beliau tinggal di sini sampai usia 53 tahun. Kemudian, Madinah Thayyibah adalah tempat hijrah beliau. Tempat peristirahatan beliau pun ada di sana. Kebanyakan risalah yang berisikan hukum turun di Madinah. Maka, mengunjungi kedua tempat bersejarah ini akan memperbaharui ingatan terhadap setiap zaman Nabi Muhammad saw. dan meningkatkan perasaan cinta kepada beliau. Orang-orang membuat berbagai macam benda sebagai kenang-kenangan. Islam telah memerintahkan umatnya untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah ke Madinah dan menetapkannya sebagai kenang-kenangan.
25. Haji dan Ziarah adalah kesempatan yang paling bagus untuk memperkuat pusat Islam, menolong penduduk Makkah Madinah, mengetahui keadaan mereka, dan membantu mereka. Bila kita bertemu langsung dengan mereka, maka dengan sendirinya akan tumbuh di dalam diri kita keinginan dan semangat untuk membantu mereka. Dan sekembalinya dari sana pun, kita akan mengingat mereka sampai beberapa lama.
Sebagai contoh, saya telah menunjuk beberapa perkara secara ringkas dan secara garis besar saja. Dengan memikirkannya secara mendalam, banyak sekali perkara dan maslahat yang bisa dipahami. Akan tetapi, sangat penting untuk dipahami bahwa tujuan yang sebenarnya adalah meningkatkan hubungan dengan Allah swt. dan menghilangkan cinta dunia.

Read More or Selengkapnya..

Bab 4 Hakikat Haji Bag 4

Dalam banyak hadits disebutkan bahwa bagi laki-laki, yang terbaik adalah mengucapkan labbaik dengan suara yang keras. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jibril telah datarig kepadaku dan berkata, ‘Suruhlah sahabat-sahabatmu untuk mengucapkan Labbaik dengan suara keras seperti orang yang memanggil-memanggil.’”
Dalam hal hal ini jelas bahwa memanggil dengan nada memohon dan merayu merupakan ruhnya cinta. Dalam keadaan seperti itu, akhirnya ia sampai juga di kota Sang Kekasih dan ia masuk di kota Makkatul-Mukarramah.

Seorang penyair Urdu berkata:
Setelah mencari dan mencari, akhirnya kami sampai di rumahnya.
Ketika hati ini bingung, tiba-tiba muncul penunjuk jalan. Semangat hatilah yang telah menyampaikkan kami ke rumah kekasih.
Dalam hidup ini aku telah masuk di taman surga.
Saya sangat jarang mendengar guru saya, Syaikh Maulana Khalil Ahmad Nawwarallahu Marqadahu melantunkan syair. Akan tetapi, bila beliau pergi haji dan ketika sedang duduk di Masjidil-Haram, saya mendengar beliau melantunkan beberapa bait syair di bawah ini:
Di mana kami dan di mana sang kekasih.
Di dalam kesejukan udara di pagi hari ini kita telah bertemu.
Ini semua adalah kasih sayang-Mu.
Barangsiapa yang hatinya telah dilukai oleh perasaan cinta, bila ia telah sampai ke rumah sang kekasih, maka apa yang dirasakan dalam hatinya dan yang terpikir oleh otaknya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Seorang penyair Urdu berkata dalam sebuah syair:
Bagaimana seorang pecinta mampu menatap wajah kekasihnya. Nabi Musa a.s. saja jatuh pingsan di gunung Thur ketika tidak tahan melihat sang kekasih.
Setelah itu, dengan tidak disengaja kelakuannya tidak akan terkendali lagi. Kadang mencium dinding ini, kadang itu, kadang mencium pintu rumahnya, kadang menempelkan matanya dan meletakkan dahi dan kepalanya di dinding rumah sang kekasih.

Thawaf dimulai dengan mencium Hajar Aswad, yang di dalam hadits disebutkan sebagai tangannya Allah swt.. Oleh karena itu, mencium Hajar Aswad seolah-olah mencium tangan Allah swt.. Dan ini adalah karunia Allah swt. yang tiada taranya karena Dia telah memberikan keberuntungan ini kepada manusia.
Mungkin tidak ada perkara-perkara yang lazim dilakukan oleh para pecinta seperti mencium dinding rumah sang kekasih, mencium tangannya dan kakinya, yang tidak dijadikan oleh para penyair sebagai pokok pembahasan dalam syairnya sebagaimana dalam syair:

Bila aku telah sampai di kota Laila.
Aku mencium dinding ini dan dinding itu.
Rasulullah saw. meletakkan bibir beliau di atas Hajar Aswad lama sekali, sehingga air mata beliau bercucuran. Kemudian Rasulullah saw. melihat Umar r.a. juga berdiri di sampingnya dalam keadaan menangis. Maka Rasulullah saw. bersabda, “Inilah tempat seharusnya air mata dialirkan.”
Menarik-narik kelambu Ka’bah juga merupakan satu pemandangan bagaimana seharusnya seorang yang jatuh cinta menarik-narik baju sang kekasih. Dan itu merupakan suatu bukti adanya rasa cinta di dalam hati.
Multazam yang merupakan satu bagian dari dinding Ka’bah adalah tempat yang penuh berkah dan tempat dikabulkannya doa. Sebuah hadits menyebutkan bahwa Rasulullah saw. dan para sahabat beliau pada waktu menunaikan haji selalu berada di Multazam dan menempelkan wajah ke atasnya.
Seorang pujangga Urdu berkata:
Hari ini aku melihat Arsyad dalam keadaan aneh.
Ia menangis di samping dinding seseorang.
Setelah itu, berlarian antara Shafa dan Marwah adalah suatu gambaran keadaan seseorang yang dilanda cinta. Tanpa memakai tutup kepala dan tanpa memakai baju, orang yang berhaji berlarian ke sana kemari. Seorang penyair Urdu berkata, “Wahai orang sufi, jika kamu berdoa baik untuk hamba yang hina ini, maka berdoalah supaya bertambah kecemasan orang-orang yang datang dan berjalan ke sana kemari di lorong-lorong jalan yang menuju kekasih. Kecemasan, kebimbangan, dan mondar-mandirnya seorang pecinta digambarkan oleh berjalannya orang yang berhaji dari satu tempat ke tempat yang lain. Pagi harinya masih ada di Makkah, dan sore harinya ke Mina dan bermalam di sana, dan pagi harinya pergi ke 'Arafah, sebuah padang yang tandus, Begitu tiba waktu sore, langsung ke Muzdalifah dan pada pagi harinya berjalan menuju Mina, siang harinya melanjutkan ke Makkah, dan sore harinya kembali ke Mina. Dalam hal ini, seorang penyair berbangsa Persia berkata:
Apakah cinta kepada Allah swt. bisa kurang daripada cinta kepada Laila.
Berjalan di lorong-lorong dalam mencari cinta ilahi itu lebih baik.
Setelah itu, melempar syaitan dengan kerikil adalah gambaran terakhir dari serangkaian gambaran-gambaran kecemasan dan kerisauan seseorang yang mencari cinta seperti layaknya seorang gila. Sebagaimana ornag gila, bila kegilaannya telah melampaui batas, maka ia akan melempari setiap orang dengan batu yang ia anggap mengganggu pekerjaannya.
Akhir dari semua itu adalah menyembelih binatang kurban, yang pada hakikatnya adalah mengorbankan nyawanya sendiri, Tetapi, Allah swt. dengan penuh kasih sayang dan kelembutan telah menggantinya dengan binatang, yakni dengan harta. Inilah keadaan terakhir dari sebuah perjalanan cinta. Seorang pujangga berkata:
Hanya dengan kematianlah sakitnya perpisahan bisa diobati.
Pada saat jenazahku dimandikan, itulah saatnya merayakan anugerah kesehatan.
Hanya kematian saja obat cinta.
Tidak ada obat yang lebih baik darinya.
Adanya pedang seseorang menebas leherku, adalah keinginan hatiku yang sudah tidak sabar ini.
Wahai maut, cepatlah datang kemari supaya masalah cepat selesai.
Sampai kapan hati ini menanggung derita malam perpisahan.
Dia meninggalkan aku dalam keadaan sekarat.
Wahai orang yang cinta mati syahid, tolong cegah dia.
Ini adalah isyarat ringkas mengenai pemandangan haji yang berkaitan dengan perhubungan cinta. Orang yang hatinya telah tergores oleh perasaan cinta, bahkan telah tergila-gila dengan Sang Kekasih, maka setejah sampai di sana nanti akan mendapati isyarat-isyarat tersebut. Untuk menjelaskannya secara terperinci, satu kitab yang tebal pun tidak akan cukup. Di samping itu, jazbah (semangat) yang ada di dalam hati tidak bisa dituangkan dalam buku.

Read More or Selengkapnya..

Bab 4 Hakikat Haji Bag 3

Yang kedua adalah pemandangan yang menunjukkan perasaan cinta dan rindu. Dan hal itu tampak jelas dari keadaan orang yang berhaji sehingga tidak perlu untuk dibahas secara terperinci. Hubungan hamba dengan Allah swt. Ada dua macam. Yang pertama adalah ketaatan dan kehambaan, karena Allah swt. adalah Sang Pencipta dan pemilik. Hubungan ini tampak nyata di dalam shalat. Amalan shalat menampakkan ketaatan dan kehambaan. Oleh karena itu, semua perkara di dalam shalat merupakan tempat perwujudan hubungan ini. Dengan penuh kewibawaan, ketenangan, dan memakai pakaian yang pantas, dan dengan penuh adab menghadap Allah swt.. Setelah mengambil air wudhu, mula-mula dengan penuh ketenangan mengangkat tangan sampai ke telinga sambil mengikrarkan kehambaan dirinya dan mengagungkan Allah swt., kemudian bersedekap, kemudian sambil menundukkan kepala hendaknya ia mengagungkan Allah swt.. Selanjutnya, sambil meletakkan kepala di atas tanah, hendaknya seorang hamba menunjukkan ketaatan dan kelemahannya, dan lidahnya selalu mengikrarkan kebesaran Allah swt.. Jangan sampai ada perkataan maupun perbuatan yang bertentangan dengan kebesaran Allah swt. atau bertentangan dengan pengakuannya. Semakin banyak ketenangan di dalam mengerjakan perkara-perkara ini, maka akan semakin diterima Allah swt.. Oleh karena itu, berangkat shalat dengan berlarian dimakruhkan, memasukkan jari-jari satu tangan ke dalam jari tangan yang lain ketika duduk menunggu shalat juga makruh, menyembunyikan jari di dalam shalat juga makruh. Melirik ke sana kemari juga dimakruhkan. Memakai pakaian yang tidak sopan juga makruh. Shalat akan batal bila ia berbicara ketika shalat. Dan bila wudhu batal, shalatnya juga batal.
Hubungan yang kedua antara hamba dengan Allah swt. adalah hubungan cinta kasih. Dia adalah Dzat Yang Memelihara, Pemberi nikmat, anugerah, dan Pemilik segala sifat keindahan dan kesempurnaan. Dan di sisi lain, dalam diri manusia terdapat sumber daya untuk mencintai. Dalam sebuah syair berbahasa Urdu dijelaskan mengenali hal tersebut. Makna syair itu adalah:

Sejak zaman azali telah ditetapkan bagi setiap orang bahwa ia memuja keindahan.
Sejak kecil kebiasaanku adalah berlagak seperti seorang pecinta.
Waktu lahir, tanganku sudah mengusap-usap dada.
Tidak tahu kapan dan dengan siapa akan jatuh cinta.
Sejak masa kanak-kanakku, perasaan cinta telah merasuk dalam diriku.
Jika aku bermain-main, maka mainannya adalah mengadukan pandangan mata.
Alangkah baiknya mata yang tidak bisa menangis itu menjadi buta.
Dan alangkah baiknya hati yang tidak bersedih (karena ditinggal kekasih) itu terbakar.
Aku tidak bisa hidup bila berpisah denganmu. Tapi syukurlah, umur ini tidak kekal

Hubungan ini tampak jelas di dalam ibadah haji, karena sejak awal, perjalanan orang yang berhaji telah memutuskan hubungan dengan semua ahli keluarganya, dan meninggalkan rumahnya menuju rumah Sang Kekasih (baitullah). Ia lewati lorong-lorong dan jalan-jalan yang menuju rumah sang kekasih, Karena dua perkara inilah yang semestinya dikerjakan oleh para pecinta.

Seorang penyair berkata:
Ketidakberdayaanku telah mendatangkan warna yang baru.
Perkampungan telah aku tinggalkan, dan sekarang telah sampai ke hutan.
Aku lebih suka tanah lapang daripada taman bunga.
Aku telah membeli warna baru.
Dan hati penuh dengan keinginan.
Demi gersangnya hatiku, biarkanlah aku pergi ke hutan."
Semua kerinduan itu datangnya dari mana? Mengapa hati dipenuhi dengan kekhawatiran dan kecemasan? Karena waktu berkumpulnya para pecinta telah hampir tiba. Seorang penyair Urdu berkata:
Jika diizinkan, aku mau bergabung dengan mereka.
Karena aku dengar bahwa para pecinta besok akan berbondong-bondong datang ke rumahmu.
Dan bila seseorang keluar dari rumahnya dengan niat dan semangat seperti itu, maka pahamilah bahwa musibah adalah sesuatuyang lazim dalam perjalanan cinta.
Seorang penyair Urdu bermadah:
Wahai orang yang berjalan di atasjalan cinta, semoga Tuhan melindungimu.
Karena dijalan itu ada beberapa tempat yang penuh dengan kesukaran.
Berhati-hatilah dalam mengucapkan cinta.
Karena beban cinta itu tidak mudah untuk diangkat.

Jika perjalanan ini diniatkan untuk menjumpai kekasih maka seluruh kesukaran dan penderitaan di jalan ini akan terasa ringan. Dan sudah semestinya semua itu ditahan karena rasa rindu telah menggebu-gebu.
Setelah itu, memakai pakaian ihram juga mencerminkan cinta. Tidak ada penutup di atas kepala, tidak ada baju di atas badan, dalam keadaan layaknya seorang fakir, tidak memakai wewangian dan perhiasan. Inilah satu keadaan yang menampakkan sempurnanya kecemasan dan kekhawatiran.
Sebenarnya, keadaan seperti itu hendaknya dimulai sejak mulai keluar dari rumah. Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa yang paling utama adalah memakai pakaian ihram dari rumah. Akan tetapi karena setelah memakai pakaian ihram banyak sekali perkara-perkara yang dilarang, dan sebagian orang yang biasa hidup mewah tidak bisa berlama-lama dalam keadaan seperti itu, maka Allah swt. dengan sifat rahim-Nya membolehkan untuk tidak memakai pakaian ihram sejak dari rumah, karena di dalamnya mengandung banyak kesulitan dan kepayahan. Akan tetapi, setelah dekat dengan rumah Kekasih, hendaknya orang yang berhaji dengan penuh perhatian memasuki rumah Kekasih dalam keadaan seperti di atas, yakni dalam keadaan rambut yang acak-acakan, pakaian yang kotor seperti pakaian orang gila, dan badan yang kotor seperti halnya orang yang mabuk asmara. Hal inilah yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya:
“Orang yang menunaikan haji adalah yang rambutnya acak-acakan dan badannya kotor.” Yakni banyak debu jalan yang menempel di rambut dan badannya.
Keadaan itulah yang dibangga-banggakan oleh Allah di hadapan para malaikat dengan firman-Nya: “Lihatlah kalian para peziarah rumah-Ku, mereka datang dalam keadaan rambut acak-acakan dan badan yang penuh dengan debu.”
Setelah itu, hendaknya mengucapkan Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika Laa Syariika laka Labbaik dengan penuh rasa cinta. Arti dari kalimat itu adalah, “Aku hadir, ya Allah, aku hadir, tidak ada sekutu bagimu, aku hadir, aku hadir.” Juga hendaknya diucapkan dengan suara yang keras dan lantang. Dan hal inilah yang dimaksud oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya:
"Haji yang paling baik adalah yang keras suaranya dalam mengucapkan talbiyah dan yang paling banyak mengalirkan darah binatang kurban.”

Read More or Selengkapnya..

Bab 4 Hakikat Haji Bag 2

Banyak sekali orang kaya yang diberi oleh Allah swt. harta yang melimpah ruah yang sampai ke tanah Hijaz dengan cepat setelah diberikan paspornya dengan pemeriksaan ringan. Begitulah keadaan jenazah yang mempunyai simpanan amal yang melimpah ruah, ia tidak takut akan seluruh keadaan di dalam kubur, ia tinggal di dalamnya dengan tenang seperti seorang pengantin sehingga masa yang panjang sampai hari Kiamat akan berlalu untuknya dalam waktu beberapa menit atau beberapa jam. Ia akan tidur di dalam kubur seperti sepasang pengantin yang tidur di atas ranjang dengan berselimutkan kain sutra dan selimut yang sangat halus pada malam pertama. Kemudian dua helai kain ihram yang putih selalu mengingatkannya kepada kain kafan. Bila dilihat dengan pandangan Ibrah, maka selama ia memakai pakaian ihram, hendaknya ia ingat bahwa tubuhnya dibungkus dengan kain kafan. dan ucapan Labbaik (saya hadir) pada saat ihram mengingatkan berlariannya semua orang ketika mendengar suara orang (malaikat) yang menyeru pada hari kiamat.
"Pada hari itu semuanya akan mengikuti orang (malaikat) yang menyeru (dari sisi Allah swt.)"

Dan masuk ke Makkah Mukarramah seakan-akan masuk ke alam kubur. Di Makkah Mukarramah ada harapan untuk mendapatkan rahmat Allah swt., karena Makkah adalah Darul-Aman. Akan tetapi, karena amal buruknya, orang hendaknya selalu merasa takut kalau-kalau di tempat yang aman pun ia tidak mendapatkan keamanan. Jamaah haji yang tinggal di Makkah Mukarramah selalu memperbaharui ingatan tentang harapan itu. Adanya Makkah Mukarramah sebagai tempat yang aman selalu mengingatkan kita kepada rahmat Allah, maghfirah-Nya, karunia-Nya, dan pemberian-Nya. Dengan mengingat seluruh amal buruknya yang telah ia kerjakan semasa hidupnya, maka ia akan teringat satu bait syair yang berbunyi:
Jika setelah mati tidak hidup tenang, maka mau lari ke mana.

Memandang Baitullah mengingatkan kita ketika melihat rumah Al-Malik pada hari Kiamat. Dan karena Baitullah adalah tempat munculnya kehebatan, keagungan, dan kebesaran Allah swt., hendaknya kita datang ke Baitullah dengan penuh adab sebagaimana menerapkan adab pada waktu hadir di istana raja. Thawaf di Baitullah mengingatkan thawafnya para malaikat di Arsy Mualla di mana mereka selalu mengerjakan thawaf di sana. Menangis dengan berselimutkan kelambu Ka’bah dan menangis di Multazam adalah seperti perbuatan seseorang yang bersalah kepada seorang tuan yang baik dan yang memenuhi segala keperluannya, ia menangis dengan memegang ujung bajunya supaya dimaafkan, dan menangis sambil memegang dinding Baitullah, karena inilah satu-satunya jalan agar dosa-dosanya dimaafkan. Dan ini juga merupakan gambaran menangis pada hari Kiamat karena teringat akan dosa. Kemudian Sa’i antara Shafa dan Marwah mengingatkan ketika kita berlari ke sana dan kemari pada hari Mahsyar. Firman Allah swt.:

"Mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan" (QS. Al-Qomar- 7)

Menurut pendapat saya, pemandangan ini memperbaharui ingatan kita kepada pemandangan Kiamat yang sangat ajaib, yang kisahnya disebutkan di dalam hadits secara terperinci. Yaitu, pada hari Mahsyar, ketika semua makhluk dalam keadaan susah dan mereka sedih karena banyaknya musibah, mereka akan berfikir bahwa para nabi adalah orang-orang yang sangat tinggi derajatnya di sisi Allah swt. Dan hamba Allah yang makbul, maka jalan keselamatan dari musibah ini adalah dengan mendatangi para nabi dan meminta mereka supaya memberikan syafaat kepada mereka. Maka, pertama-tama mereka akan datang kepada Nabi Adam a.s. dan berkata, “Engkau adalah bapak kami. Allah swt. Menciptakan engkau dengan tangan-Nya. Dan Allah swt. telah menyuruh para malaikat bersujud di hadapanmu. Allah swt. sendiri telah mengajarkan kepadamu nama-nama setiap benda dan sebagainya, maka syafaatilah kami. Maka beliau menjawab, “Aku tidak bisa. Kalau aku ditanya, ‘Mengapa engkau memakan buah yang telah dilarang untuk dimakan?,’ maka aku akan menjawab apa?. Pergilah kalian kepada Nabi Nuh a.s.. Orang-orang ini akan datang kepada Nabi Nuh a.s. dalam keadaan susah. Beliau juga akan menyatakan tidak mampu. Beliau akan berkata, “Pada waktu terjadi banjir, aku telah meminta kepada Allah swt. supaya menyelamatkan anakku, dan ini adalah permintaan yang tidak pada tempatnya.” Pergilah kalian kepada Nabi Ibrahim a.s.. Beliau juga akan menyatakan ketidak mampuannya. Beliau akan menyuruh mereka supaya pergi kepada Nabi Musa a.s. Beliau juga tidak bisa mensyafaati mereka. Lalu beliau menyuruh mereka pergi kepada Nabi Isa a.s.. Beliau akan menyuruh mereka pergi kepada Rasulullah saw.. Dan kemuliaan ini hanya untuk Nabi Muhammad s.a.w.. Pada hari yang sangat menakutkan itu, beliau akan mengawali memberikan syafaat. Kisah ini sangat panjang. Di sini saya hanya ingin menunjukkan pemandangan tentang keadaan pada hari Mahsyar ketika orang-orang akan berlarian ke sana kemari dalam keadaan susah. Hari itu adalah hari yang sangat keras. Padang Arafah adalah gambaran yang persis dengan gambaran padang Mahsyar. Mereka berkumpul di padang yang gersang di bawah terik matahari dalam keadaan mengharap rahmat Allah swt. dan takut akan dosa-dosanya. Menurut pendapat saya, perkara yang patut direnungkan di padang Arafah adalah janji yang telah diambil dengan firman-Nya pada zaman azali. Yakni, di alam arwah, Allah swt. telah bertanya kepada semua ruh, “Bukankah Aku ini tuhan kalian?” Semua menjawab dengan serentak, “Benar, Engkau adalah Rabb kami.” Di dalam kitab Misykat terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang menyebutkan bahwa perjanjian ini terjadi di padang Arafah. Maka, waktu dan tempat ini adalah waktu untuk mengingat akan janji yang telah kita ikrarkan dan dengan cara apa kita telah menyempurnakan janji itu. Setelah itu, mengenai perkumpulan-perkumpulan di Muzdalifah, Mina, dan sebagainya, Imam Ghazali rah.a. berkata, “Berdesak-desakannya orang-orang, ramainya orang, berbedanya bahasa, berbedanya suara dan berjalannya setiap orang di belakang pemimpinnya di tempat-tempat itu mengingatkan akan pemandangan berjalannya setiap orang di belakang nabi dan pemimpin masing-masing pada hari Kiamat. Dan berlarinya setiap orang di alam yang penuh kesusahan dan ketakutan, kadang berlari ke sana dan kadang ke mari. Di tempat-tempat ini, hendaknya setiap orang selalu merendahkan diri dan banyak menangis karena ini akan berguna di alam akhirat.

Inilah rangkaian haji secara ringkas yang memperbaharui ingatan mengenai pemandangan-pemandangan di akhirat. Di sini saya menuliskannya dengan kata-kata yang ringkas sebagai isyarat saja. Bila dipikirkan dalam-dalam, maka dari gambaran ini banyak perincian-perincian yang bisa dipahami.

Read More or Selengkapnya..

Senin, 07 September 2009

Bab 4 Hakikat Haji- Bagian 1

Pada hakikatnya haji adalah gambaran dua pemandangan, dan di dalam setiap amalan ibadah haji tersirat dua hakikat. Walaupun setiap perintah Allah swt mengandung banyak kemaslahatan dan hikmah, namun tidak setiap pikiran orang mampu menjangkaunya. Akan tetapi ada sebagian kemaslahatan yang jelas dan terbuka, yang bisa dipahami oleh semua orang. Begitu pula dengan ibadah haji, yang mengandung banyak maslahat yang tidak bisa dipahami oleh setiap orang. Akan tetapi, dua perkara di bawah ini sangat jelas terkandung di dalam setiap rukun dan dalam setiap bagian ibadah haji. Pertama, haji adalah gambaran pemandangan kematian dan keadaan setelah mati. Kedua, gambaran yang menunjukkan perasaan cinta dan rindu, dan gambaran terwarnainya ruh dengan kerinduan dan kecintaan yang hakiki.

Secara ringkas, di sini akan diingatkan tentang dua pemandangan itu sebagai gambaran. Dengan memikirkan gambaran ini, semua pemandangan itu akan tampak dan jelas di dalam setiap amalan haji. Gambaran pertama adalah pemandangan kematian dan keadaan setelah mati. Sebagaimana seseorang yang pada saat berangkat dari rumah meninggalkan kaum kerabatnya, rumahnya, negaranya dan kawan-kawannya dan ia pergi ke negara lain, seakan-akan ia pergi ke alam lain. Segala sesuatu yang dicintai oleh hati seperti rumah, sawah, kebun dan duduk-duduk dengan orang yang dicintai, akan ia tinggalkan pada saat ia bepergian. Begitu juga pada saat seseorang meninggal dunia, ia akan meninggalkan semua perkara itu. Perkara-perkara inilah yang patut untuk direnungkan, dipikirkan dan dijadikan pelajaran. Yakni, sebagaimana barang-barang yang ia cintai, ia tinggalkan untuk sementara waktu pada hari ini, maka akan datang waktunya ketika ia harus meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Kemudian dengan pandangan yang lebih dalam, pada saat ia menaiki kendaraan, ia akan ingat dan membayangkan bahwa jenazahnya sedang dinaikkan ke atas keranda. Setelah duduk di dalam kendaraan dan kendaraan pun mulai berjalan, maka langkah demi langkah, ia semakin jauh dari kampung halamannya dan teman-temannya. Ini adalah gambaran orang-orang yang memikul jenazahnya, setiap langkahnya akan menjauhkannya dari rumahnya, keluarganya dan semua kekayaannya. Ada sebagian orang yang mau ikut menshalatkan jenazahnya, ada yang sampai mengantarkannya ke kuburan dan sebagian orang ikut mengebumikannya, sampai ia dikubur dan ditimbun dengan tanah. Semua pemandangan ini dialami oleh semua orang yang melaksanakan haji. Saat mulai meninggalkan rumahnya maka beberapa orang menyalaminya untuk melepaskan kepergiannya dengan mengucapkan Fii Amaanillah, sebagian orang ada yang mengantar sampai stasiun, sebagian kerabat dekatnya bahkan ada yang sampai mengantar ke bandara. Setelah itu ia akan bergabung dengan jamaah haji yang lain. Ia pergi haji dengan membawa sedikit hartanya untuk bekal perjalanan. Di antara sebagian kawan perjalanannya, ada yang karakternya baik dan ada juga yang tidak baik. Teman perjalanan yang baik akan menjadikan suasana perjalanan haji menjadi tenang dan menyenangkan. Sebaliknya kawan yang buruk, menyebabkan perjalanan menjadi tidak nyaman dan menyusahkan. Kira-kira seperti inilah pemandangan-pemandangan yang akan dialami seseorang ketika dalam perjalanan ke akhirat. Yakni, yang akan menemaninya di dalam kubur adalah kawan yang akan bersamanya sampai akhir.

Di antaranya adalah amal baik, yang akan menyebabkan datangnya berbagai macam kesenangan dan kebahagiaan, dan amal buruk yang akan menyebabkan timbulnya berbagai macam penderitaan dan kesusahan. Amal yang baik akan menemani tuannya di dalam kubur dalam wujud seorang laki-laki yang sangat tampan, sedangkan amal buruk akan menemani ahli kubur dalam wujud seorang yang buruk rupa, menakutkan dan berbau busuk.
Di alam kubur ini, kebahagiaan yang ia dapatkan semata-mata adalah karena amal sholehnya yang telah ia lakukan sebelum meninggal dunia. Seperti halnya kebahagiaan dan kesenangan yang dialami ketika dalam perjalanan haji adalah karena harta, bekal dan perlengkapan yang telah ia persiapkan sebelum pergi haji. Ya, ada sebagian orang yang sangat beruntung di dalam kubur karena ada saudaranya, kaum kerabatnya dan temannya yang membaca Al Qur’an atau bersedekah lalu menghadiahkan pahalanya kepadanya. Maka hadiah itu akan berguna baginya pada saat ia sangat memerlukannya. Sebagaimana seseorang yang sedang mengerjakan haji lalu saudaranya atau kerabatnya mengirimkan uang dengan transfer ke rekeningnya, maka hal itu akan menyebabkan orang yang berhaji merasa senang dan gembira. Kemudian, segala jenis bahaya, perampokan, pencurian, pemeriksaan paspor dan penimbangan.

Read More or Selengkapnya..

What Does This Blog Talk? Blog ini Bicara Tentang...

Blog ini berusaha menyampaikan kutipan-kutipan ayat-ayat suci Al Qur'an maupun hadits-hadits Nabi SAW, mengenai keutamaan melaksanakan ibadah haji dan umroh. Semoga bermanfaat ya...

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Romantico by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP