Minggu, 04 Juli 2010

Bab 7 Umroh - Hadits ke-1 dan 2

Hadits – Hadits Tentang Umrah

Hadits ke-1

Diriwayatkan dari Amar bin Abasah r.a., ia berkata, Rasulullah saw bersabda,” Amal yang paling utama adalah haji yang mabrur atau umrah yang mabrur.” ( Hadits Riwayat Ahmad, Thabrani ).

Keterangan:
Dalam Bab I Hadits ke-2 telah dijelaskan tentang makna umrah yang mabrur. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Umrah adalah Haji kecil. ( Durrul Mantsur ). Yakni keberkahan, keutamaan dan hasil yang didapati di dalam haji juga akan didapati di dalam umrah dengan sedikit berkurang.

Hadits ke-2

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda,” Satu umrah sampai umrah yang lain menjadi kafarah ( penghapus dosa yang dikerjakan ) di antara keduanya.” ( Hadits Riwayat Muttafaq ‘alaih, Misykat )

Yakni setelah melakukan satu umrah sampai dengan umrah yang berikutnya, berapa saja banyaknya kesalahan dan dosa yang ia lakukan, semuanya diampuni. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa satu umrah sampai umrah yang kedua merupakan kafarah bagi dosa dan kesalahan antarra keduanya. ( Kitab Kanzul Umal )



Read More or Selengkapnya..

Bab 6 Keutamaan Makkah dan Ka'bah - Hadits ke-2

Hadits ke-2

Rasulullah saw. bersumpah dan bersabda, pada hari Kiamat nanti, Allah Ta'ala akan membangkitkan Hajar Aswad dalam keadaan mempunyai dua mata yang dengannya ia akan melihat, dan mempunyai lisan yang dengannya ia akan berbicara dan akan memberikan persaksiannya untuk orang-orang yang telah menciumnya dengan penuh haq.

Keterangan.
Yang dimaksud mencium dengan haq adalah mencium dengan penuh keimanan dan membenarkan. Jabir meriwayatkan dari Rasululullah saw., beliau bersabda bahwa Ka'bah memilki satu lisan dan dua bibir ( pada zaman dulu ), yakni Ka'bah telah melapor kepada Allah Ta'ala, "Ya Allah, sekarang orang yang thawaf dan menziarahi aku telah berkurang." Maka Allah Ta'ala berfirman, "Sebentar lagi Aku akan menciptakan satu kaum ( muslimin ) yang betul-betul khusyu', yang banyak mengerjakan sujud ( ahli shalat ) . Mereka akan menunduk di depanmu sebagaimana burung merpati menunduk ke arah telurnya." ( Sumber: Kitab Targhib ). Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa kelak, Hajar Aswad dan Rukun Yamani akan bangkit dalam keadaan memiliki dua mata dan dua lisan, dan bibir mereka akan memberikan kesaksian yang sempurna untuk orang orang yang menciumnya, yakni akan bersaksi bahwa orang-orang yang telah menciumnya telah sempurna dalam berikrar. ( Targhib ).

Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Umar r.a. ketika mengerjakan thawaf dan sampai di Hajar Aswad, ia menciumnya dan berkata, "Aku tahu kamu adalah sebuah batu, kamu tidak bisa memberikan manfaat dan tidak bisa memberikan madharat. Seandainya aku tidak melihat Rasul saw. menciummu, aku tidak akan pernah menciummu." Pada saat itu, Ali r.a. berada di sebelahnya, maka ia berkata, "Hai Amirul-Mukminin, ( Hajar Aswad ) ini bisa memberikan, manfaat dan juga madharat. Umar r.a. bertanya, "Bagaimana bisa?" Ali berkata bahwa pada zaman azali, ketika Allah Ta'ala mengambil ikrar dari seluruh hamba-Nya, maka Allah Ta'ala telah menulis ikrar itu dalam kitab, kemudian menyimpannya di dalam batu ini. Maka batu ini akan memberikan kesaksian pada hari Kiamat bahwa si Fulan telah berikrar, dan si Fulan, yakni seorang kafir, telah ingkar. ( Kitab Ithaf  ). Karena itu, pada umumnya doa yang masnun untuk dibaca di tempat itu adalah:

 "Ya Allah, aku mencium dengan beriman kepada-Mu dan membenarkan kitab-Mu, dan menyempurnakan janji-Mu".

Umar r.a. sangat memikirkan akidah umat Islam, jangan sampai akidah mereka lemah. Oleh karena itu, pohon yang di bawahnya pernah dijadikan sebagai tempat Bai'atur Ridhwan dipotong atas perintahnya. Baiat itu sangat penting sehingga Allah swt. memberikan jaminan berupa ampunan kepada para sahabat di dalam Al-Quran dengan firman-Nya:

 “ Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. ( Al Fath: 18 )

Ia memerintahkan untuk memotong pohon itu setelah mengetahui bahwa orang-orang datang ke tempat itu untuk mengambil berkah. ( Durrul Mantsur ). Maka Umar r.a. berpikir, karena orang-orang baru saja lepas dari penyembahan kepada berhala, jangan sampai mereka menganggap batu ini sebagai batu yang mirip berhala dan mereka menyembahnya. Maka ia berkata sebagaimana disebutkan di atas untuk mengingatkan bahwa batu tersebut tidak perlu diagungkan, tetapi yang harus diagungkan adalah perintah Allah swt. Jangan seperti orang musyrik yang menganggap bahwa batu ini mengandung khasiat. ( Kitab Ithaaf ). Begitu juga telah dinukilkan tentang perkataan Umar r.a. tentang Baitullah. Beliau r.a. berkata,” Ini adalah rumah yang dibuat dari beberapa buah batu. Akan tetapi Allah swt menentukannya sebagai kiblat untuk kita supaya kita mengerjakan sholat menghadap ke arahnya selama kita hidup, dan juga setelah mati dibaringkan dengan muka menghadap ke arahnya. ( Kitab Kanz ).
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa apabila Umar r.a. sampai di Hajar Aswad, ia akan berkata,” Aku bersaksi bahwa kamu ini hanyalah sebuah batu, tidak bisa memberi manfaat dan kerugian. Rabb-ku adalah Dia Yang tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Kalau aku tidak melihat Rasulullah saw menciummu dan memegangmu, aku tidak akan menciummu dan memegangmu.” ( Kitab Kanz ). Dalam sebuah hadits lain disebutkan bahwa ketika Umar r.a. mencium Hajar Aswad, ia berkata:

"Dengan nama Allah swt dan Allah Maha Besar atas hidayah yang telah dikaruniakannya kepada kita. Tiada yang patut disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Saya beriman kepada Allah swt, dan saya ingkar terhadap jibti, thogut, latta dan uzza serta apa-apa yang diseru selain Allah swt dan sesungguhnya penolongku hanyalah Allah swt yang telah menurunkan Al Qur’an dan Dia adalah sebaik-baik penolong bagi orang-orang yang sholeh.
Dalam do’a ini, beliau menjelaskan bahwa ia telah bebas dari segala macam kemusyrikan. Dari keterangan di atas jelaslah bahwa berthawaf di Baitullah dan mencium Hajar Aswad tidak memiliki persamaan sama sekali dengan menyembah berhala. Pertama, karena thawaf dan sebagainya adalah untuk menyempurnakan perintah Allah swt, sedangkan mengelilingi patung atau menyembah patung tidak diperintahkan oleh Malikul Mulk. Kedua, Ka’bah dan Hajar Aswad tidak mempunyai hubungan dan nisbat dengan selain Allah swt, karena ia adalah rumah Allah swt. Berbeda dengan berhala, karena ia berhubungan erat dengan selain Allah swt, maka jelas bahwa menyembah dan mengelilinginya adalah kesyirikan. Adapun perkataan Ali r.a bahwa Hajar Aswad memberi faedah bahwa kelak ia akan memberi kesaksian pada hari kiamat, adalah benar. Di dunia ini saja, bila kita sedang berperkara di pengadilan dan ada orang yang memberi kesaksian yang menguntungkan bagi pihak kita, tentu ini merupakan keuntungan yang besar. Akan tetapi sesuatu yang memberikan manfaat kepada kita tidaklah mesti kita sembah. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa di mana saja suara muadzin sampai, maka semua benda, baik yang basah maupun yang kering, akan memberikan kesaksian baginya pada hari kiamat. Akan tetapi bukan berarti benda-benda itu mesti patut disembah.

Read More or Selengkapnya..

Bab 6 Keutamaan Makkah dan Ka'bah - Hadits ke-1

Hadits-Hadits Tentang Keutamaan Makkah dan Ka'bah

Hadits ke-1

Dari Abdullah bin Abbas r.anhuma, ia berkata, "Rasulullah saw.bersabda, 'Sesungguhnya dalam setiap hari, siang dan malam, seratus dua puluh rahmat Allah swt. turun di atas Ka'bah ini. Enam puluh di antaranya untuk orang-orang yang thawaf, 40 untuk orang-orang yang shalat, dan 20 untuk orang yang memandanginya.'" ( Ibnu 'Ady dan Baihaqi, Durrul-Mantsur ) 

Keterangan.
Melihat Ka'bah saja merupakan ibadah. Syaikh Said bin Musayyab rah.a. berkata, "Barangsiapa yang melihat Ka'bah dengan iman dan tasdiq, ia akan keluar dari dosa-dosa sebagaimana ia baru saja lahir. Abus-Saib Madani rah.a. berkata, "Barangsiapa yang melihat Ka'bah dengan iman dan tasdiq, dosa-dosanya berguguran sebagaimana daun-daun berguguran dari pohonnya. Dan barangsiapa yang duduk di Masjidil-Haram dan hanya memandangi Baitullah terus-menerus, walaupun ia tidak mengerjakan thawaf dan shalat nawafil, itu masih lebih utama dibandingkan orang yang shalat nawafil di rumahnya dan tidak melihat Baitullah. Atha' rah.a. mengatakan bahwa melihat Baitullah itu juga ibadah, dan: orang yang melihat Baitullah itu seperti halnya orang yang Tahajjud pada malam hari, berpuasa pada siang hari, berjuang di jalan Allah, dan taubat kembali kepada Allah. Juga dinukilkah dari beliau bahwa melihat Baitullah satu kali itu pahalanya sama dengan ibadah nawafil selama satu tahun. Imam Thawus berkata bahwa melihat Baitullah itu lebih utama daripada ibadah orang yang berpuasa dan bangun malam dan juga berjuang di jalah Allah. Ibrahim Nakhai rah.a. berkata bahwa orang yang melihat Baitullah itu sama dengan berusaha terus menerus dalam beribadah di luar Makkah (Durrul-Mantsur). Dan rahmat yang turun ke atas orang yang berthawaf itu telah jelas berdasarkan hadits di atas. Karena itu ulama menulis bahwa thawaf di Masjidil-Haram itu lebih utama dari pada tahiyyatul-masjid. Seandainya. karena ada sesuatu sebab sehingga seseorang tidak bisa mengerjakan thawaf, maka ia mengerjakan tahiyyatul-masjid. Seandainya tidak maka sebagai ganti tahiyyatul-masjid, begitu masuk ke masjidil-haram, mengerjakan thawaf itu lebih utama dan apabila waktu shalat sudah dekat maka baru ia meninggalkan thawaf, beruntung sekali orang-orang yang diberi taufiq oleh Allah Ta'ala. Dengan keutamaan dan anugerah-Nya, ia dapat mengerjakan thawaf berkali-kali. Karzaban Wabarah adalah seorang syaikh yang amalan hariannya selalu mengerjakan thawaf sebanyak 70 kali pada siang hari dan 70 kali pada malam hari, dengan jarak perjalanan yang harus ditempuh olehnya setiap hari 30 mil, dan setiap selepas thawaf mengerjakan dua rakaat tahiyyat thawaf sebanyak 280 rakaat. Selain itu, setiap harinya ia mengkhatamkan Al-Quran dua kali. (Ihya). Inilah orang-orang yang banyak membawa bekal untuk kehidupan akhiratnya yang abadi.



Read More or Selengkapnya..

Bab 6 Keutamaan Makkah dan Ka'bah - Ayat ke-6

Ayat ke-6


“Allah telah menjadikan Ka'bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia”. 

Keterangan
Ibnu Abbas r.anhuma meriwayatkan bahwa maksud dijadikan sebagai tempat tinggal adalah tetapnya agama mereka dan tetapnya bekas-bekas haji. Dalam hadits yang lain diriwayatkan darinya bahwa yang dimaksud adalah apabila seseorang masuk di dalamnya, maka ia akan aman. Hasan Bashri rah. a. membaca ayat ini lalu berkata, "Orang-orang akan tetap di atas agamanya selama ia menunaikan haji di rumah ini (Ka'bah) dan menghadapkan wajah ke arahnya di dalam shalat. ( Durrul-Mantsur )

Rasulullah saw. bersabda, "Perbanyaklah Thawaf di Baitullah karena ia telah roboh dua kali. Nanti kalau roboh untuk ketiga kalinya akan diangkat ke langit. Imam Ghazali rah.a. meriwayatkan hadits dari Ali Karramallahu wajhahu bahwa ketika Allah swt. hendak menghancurkan dunia ini, pertama kali yang dihancurkan adalah Ka'bah, kemudian dunia baru dihancurkan. (I Sumber: Kitab Ithaaf ) . Dalam hadits-hadits mengenai tanda-tanda kiamat banyak sekali disebutkan bahwa salah satu tandanya adalah dihancurkannya Ka'bah. Rasulullah saw.bersabda,"Seakan-akan aku melihat orang Habsyi yang menjatuhkan satu persatu batu dinding Ka'bah dan menghancurkannya. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang-orang akan selalu dalam keadaan baik selama mereka selalu mengagungkan Ka'bah sebagaimana haknya. Dan apabila mereka tidak mengagungkan Ka'bah, mereka akan binasa.(Misykat)
Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa kiamat tidak akan terjadi selama Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim belum diangkat. Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa di antara tanda-tanda kiamat adalah orang-orang Habasyah akan menyerang Ka'bah dan pasukan itu sedemikian besarnya sehingga yang terdepan berada di dekat Hajar Aswad, dan yang paling belakang berada di pinggir laut di Jeddah, dan mereka menjatuhkan satu persatu batu dinding Ka'bah dan menghancurkannya. (Ithaaf)



Read More or Selengkapnya..

Bab 6 Keutamaan Makkah dan Ka'bah - Ayat ke-5

Ayat ke-5

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan ( membina ) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail ( seraya berdoa ): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami ( amalan kami ) , sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".

Keterangan
Nabi Ibrahim a.s. membangun Ka'bah adalah peristiwa yang pasti, yang dengan gamblang disebutkan dalam Al-Quran. Para ulama menulis, "Adakah tempat yang lebih utama dari tempat ini ( Ka'bah ), karena yang menyuruh membangun Allah swt., perancangnya Malaikat Jibril a:s., dan tukangnya Nabi Ibrahim a.s., seorang nabi yang mulia, dan pembantunya adalah Nabi Ismail Dzabiihullah, yang sangat taat. Allahu akbar, betapa agungnya tempat itu. Dalam riwayat Ibnu Saad di sebutkan bahwa waktu itu umur Nabi Ibrahim a.s. 100 tahun, dan umur Nabi Ismail 30 tahun. (Durrul-Mantsur)
Menurut ahli sejarah, Ka'bah dibangun beberapa kali. Di antaranya ada yang disepakati dan ada yang dipertentangkan. Pembahasan masalah itu secara terperinci telah saya tuliskan di dalam Syarah Muwaththa' Imam Malik, dalam bahasa Arab. Adapun garis besarnya sebagai berikut:
1. Menurut pendapat yang masyhur, yang pertama kali membangunnya adalah para malaikat, 2.000 tahun sebelum diciptakannya Nabi Adam a.s. Sebagian ulama mengatakan bahwa itu adalah pembangunan yang kedua kalinya, sebelumnya telah dibangun oleh Allah swt. Dengan perintah kun fayakun-Nya, yang malaikat pun tidak ikut serta.
2. Yang membangunnya pertama kali adalah Nabi Adam a.s. Pendapat inilah yang masyhur di kalangan ahli hadits dan ahli sejarah, akan tetapi bukan merupakan riwayat yang qath'i. Diriwayatkan di dalam beberapa hadits bahwa Nabi Adam a.s. membangunnya dari lima batu, yakni Libnan, Thurisina, Thur, Zita, Judi, dan Hira'. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Nabi Adam a.s. yang membuat fondasinya dan kemudian Baitul-Makmur diturunkan dari langit dan diletakkan di atasnya. Setelah itu, ketika Nabi Adam a.s. wafat, atau ketika terjadi banjir topan pada masa Nabi Nuh a.s., Ka'bah diangkat ke langit.
3. Dibangun oleh Nabi Tsits a.s. putra Nabi Adam a.s.
4. Sesuai dengan riwayat yang mengatakan bahwa Nabi Ibrahim a.s. yang membangun, dan itulah yang pasti, yang tingginya 9 ela, panjangnya 30 ela, dan lebarnya 23 ela, tidak ada atap, di dalamnya ada sumur, apa saja yang dinadzarkan untuk Ka'bah dimasukkan di dalamnya.
5. Amaliqah.
6. Jurhum. Amaliqah dan Jurhum adalah dua kabilah Arab keturunan Nabi Nuh a.s.
7. Qushay, kakek Rasulullah saw. yang kelima.


8. Dibangun oleh suku Quraisy pada waktu Rasulullah saw. masih muda, kisahnya terdapat di dalam banyak hadits. Pada waktu itu Rasulullah saw. berumur 25 tahun dan sebagian mengatakan 35 tahun.
Rasulullah saw. sendiri ikut serta di dalam pembangunan tersebut, beliau mengangkut batu dengan pundaknya. Pembangunan Ka'bah inilah yang menyebabkan terjadinya percekcokan antar kabilah dalam memindahkan Hajar Aswad. Setiap kabilah ingin meletakkan Hajar Aswad di tempatnya. Nabi saw. menyelesaikan percekcokan itu dengan meletakkan kainnya dan meletakkan Hajar Aswad di atasnya, lam meminta setiap kabilah mengirimkan satu orang untuk memegang kain itu dan setelah dekat dengan Ka'bah, beliau meminta semua kabilah untuk menjadikan beliau sebagai wakil mereka dalam meletakkan Hajar Aswad di tempatnya. Maka semuanya mengangkat beliau sebagai wakil. Kemudian Rasulullah saw. dengan tangannya yang mulia meletakkan Hajar Aswad itu di tempatnya. Semua orang Quraisy telah berjanji untuk tidak menggunakan harta yang syubhat dalam pembangunan itu, sehingga dana yang terkumpul sedikit dan tidak mencukupi. Karenanya, dinding arah Hathim dimundurkan dan sedikit bagian Ka'bah masih di luar, dan pintu Ka'bah dibangun tinggi — berbeda dengan yang dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s. — supaya setiap orang tidak bisa masuk ke dalamnya, dan yang mau masuk harus menggunakan tangga. Sebenarnya Rasulullah saw. berkeinginan untuk membangun Ka'bah sebagaimana yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s., akan tetapi tidak sempat hingga beliau wafat.
9. Pada tahun 64 H., tentara Yazid ketika menyerang Abdullah bin Zubair r.a. di Makkah menghujani api dengan Minjaniq sehingga menyebabkan kelambu Ka'bah terbakar dan merusakkan dinding Ka'bah. Pada peristiwa itu Yazid mati.dan tentaranya kembali. Setelah itu, Abdullah bin Zubair menghancurkan sisanya dan membangun dari nol, sesuai dengan yang dikehendaki Nabi saw., yakni bagian Hathim dimasukkan, dan pintu diturunkan di dekat tanah supaya setiap orang bisa memasukinya, dan pintu yang kedua dibuat di dinding yang berlawanan supaya orang masuk dari satu pintu dan keluar dari pintu yang lain sehingga tidak terjadi saling desak. Pembangunan ini dimulai pada bulan Jumadil-Ukhra tahun 64 H, dan selesai pada bulan Rajab tahun 64 H. atau tahun 65 H. Untuk mensyukurinya, Abdullah bin Zubair r.a. telah membuat jamuan dengan menyembelih seratus ekor linta. Abdullah bin Zubair r.a. memang telah menyempurnakan pembangunan Ka'bah, akan tetapi dalam peristiwa itu terjadi kerugian yang besar, yaitu tanduk kambing surga yang disembelih sebagai pengganti Nabi Ismail a.s. yang selama itu tersimpan di dalam Ka'bah telah terbakar.
10. Setelah Abdullah bin Zubair r.a. wafat, pada rriasa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, Hajjaj telah menyesatkan raja dengan mengatakan bahwa Ibnu Zubair telah mengubah Ka'bah sehingga keadaannya tidak sebagaimana pada zaman Rasulullah saw. Abdul Malik pun mengizinkannya untuk mengubahnya. Maka Hajjaj mengubahnya sebagaimana keadaan sebelumnya, yakni pintu bagian timur ditinggikan, pintu yang berhadapan dengannya ditutup, dan dinding Hathim dipecahkan dan dipisah dari Ka'bah. Dan bagian dalam diurug, atap Ka'bah ditinggikan dari arah dalam. Perubahan ini terjadi pada tahun 73 H. Setelah itu, untuk beberapa lama keadaan Ka'bah seperti itu, yakni tiga bagian dinding dibangun oleh Abdullah bin Zubair r.a., dan bagian Hathim dibangun oleh Hajjaj. Sebagian orang mengatakan bahwa sampai sekarang, itulah bangunan yang asli. Pemugaran dan perbaikan yang dilakukan setelahnya bukanlah membangun secara keseluruhan. Sebagian ulama hadits mengatakan bahwa Khalifah Harun Ar-Rasyid berkeinginan untuk membangun Ka'bah sebagaimana yang dikehendaki Rasulullah saw., akan tetapi Imam Malik rah. a. melarangnya dengan keras. Maksud Imam Malik melarangnya adalah supaya pembangunan Ka'bah tidak dijadikan permainan oleh para raja, yakni setiap raja membangun Ka'bah untuk mencari kemasyhuran.
11. Pada tahun 1021 H., Sultan Ahmad Turki telah mengganti atap Ka'bah dan mana saja bagian dinding yang sudah keropos dipugar, talang emasnya diluruskan. Dan ini bukan pembangunan secara keseluruhan, tetapi hanya perbaikan.
12. Pada tahun 1039 H., pada masa Sultan Murad terjadi banjir, dengan derasnya air masuk ke dalam Masjidil-Haram sehingga sebagian dinding Ka'bah roboh. Maka Sultan Murad memperbaikinya, dan yang ia perbaiki hanya bagian yang roboh. Oleh karena itu para ahli sejarah mengatakan bahwa ia hanya memugar, bukan membangun secara keseluruhan. Sebagian orang mengatakan bahwa ia membangunnya secara keseluruhan.
Sedangkan Maulana Abdul-Aziz telah menulis di dalam kitab tafsirnya bahwa Sultan Murad telah membangun semua bagian Ka'bah, kecuali bagian Hajar Aswad. Dari sini disimpulkan bahwa bagian Hajar Aswad adalah peninggalan Abdullah bin Zubair, dan bagian lainnya adalah bangunan Sultan Murad. Dan pada bulan Muharram tahun 1367 H., Sultan Ibnu Saud telah memperbaharui kusen pintu Ka'bah.

Read More or Selengkapnya..

Bab 6 Keutamaan Makkah dan Ka'bah - Ayat ke-3 dan 4

Ayat ke-3

 “Barangsiapa memasukinya ( Baitullah Itu ) menjadi amanlah ia”.

Keterangan
Tempat ini dikatakan sebagai .tempat yang aman dari dua sisi. Pertama, dari sisi akhirat, yakni dengan mengerjakan shalat, puasa, dan amalan lainnya, seseorang akan aman dari adzab Jahannam. Kedua, bila ada orang yang membunuh seseorang di luar tanah Haram kemudian ia masuk ke tanah Haram, maka sebagai qishashnya ia tidak dibunuh di tanah Haram. Hanya saja, ia tidak diberi makan minum dan sebagainya, sehingga ia terpaksa keluar dari tanah Haram dan setelah keluar baru dibunuh. Umar r.a. berkata, "Seandainya aku menjumpai pembunuh ayahku di tanah Haram, maka aku tidak akan menangkapnya sehingga ia keluar. Bahkan putranya, Abdullah bin Umar r.anhuma mengatakan, "Seandainya aku menemukan pembunuh ayahku di tanah haram, maka aku tidak akan memaksanya. Diriwayatkan juga dari Abdullah bin Mas'ud r.a. perkataan yang sama tentang pembunuh ayahnya.( Durrul-Mantsur)

Ayat ke-4


“Dan ( ingatlah ), ketika Kami menjadikan rumah itu ( Baitullah ) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman”.

Keterangan
Menjadikannya sebagai tempat kembali mempunyai dua makna. Pertama, dijadikan sebagai kiblat, yakni orang-orang kembali kepadanya di dalam shalat. Kedua, orang-orang datang ke arahnya dengan berjalan kaki. Bisa juga berasal dari kata Tsawab yang artinya pahala, yakni dijadikan sebagai tempat pahala, karena satu kebaikan di sana sama dengan seratus ribu kebaikan. Abdullah bin Abbas- r.anhuma berkata, "Maksud dijadikannya sebagai tempat kembali adalah bahwa hati manusia tidak pernah kenyang darinya. Sekali pergi haji, hati ingin terus pergi berhaji. ( Durrul-Mantsur )




Read More or Selengkapnya..

Minggu, 27 Juni 2010

Bab 11 Penutup- Kisah-kisah Haji. Kisah ke-1

Kisah-Kisah Haji Para Kekasih Allah

Pada bagian akhir kitab ini akan saya tuliskan beberapa kisah hajinya wali-wali Allah swt. yang saya ambil dari kitab Raudhur-Rayyahiin dan yang lain, karena kisah-kisah itu dapat dijadikan teladan bagi para jamaah haji. Setelah itu, saya akan mengakhiri risalah ini.

Kisah ke-1

Dzun-Nun Mishri rah.a. berkata, "Suatu hari, aku sedang berthawaf di Baitullah. Pandangan orang-orang tertuju ke arah Baitullah sehingga mata mereka menjadi tenang. Tiba-tiba seseorang datang di dekat Baitullah dan berdoa, 'Wahai Rabbku, hamba-Mu yang miskin ini, dan yang jauh dari pintu gerbang-Mu, dan lari dari rumah-Mu, meminta kepada-Mu sesuatu yang paling dekat dengan-Mu, dan aku meminta ibadah yang paling Engkau sukai. Ya Allah, melalui hamba-hamba-Mu yang dekat dengan-Mu dan melalui wasilah para nabi, aku meminta kepada-Mu untuk memberikan kepadaku satu mangkuk cinta kepada-Mu, dan singkapkanlah tabir kejahilan terhadap makrifat-Mu dari hatiku, supaya aku terbang dengan sayap kerinduan agar sampai kepada-Mu, dan supaya aku bisa berbicang-bincang dengan-Mu di taman-taman makrifat." Setelah itu, orang tersebut menangis sedemikian rupa sehingga air matanya berjatuhan di lantai, kemudian ia tersenyum dan beranjak pergi. Dzun-Nun Mishri rah.a. berkata, "Kemudian aku membuntutinya. Aku berpikir dalam hati bahwa orang ini mungkin orang yang telah sempurna atau bahkan orang gila." Setelah keluar dari masjid, orang itu berjalan ke arah sebuah tanah kosong. Ketika aku sedang membuntutinya, ia berkata, "Apa yang terjadi denganmu, mengapa engkau membuntuti aku? kerjakanlah urusanmu sendiri." Aku bertanya kepadanya, "Siapa namamu?" Ia menjawab, "Abdullah." "Siapa ayahmu," aku bertanya lagi. Jawabnya, "Abdulah." (hamba Allah) Aku berkata, "Kita semua hamba Allah dan anaknya hamba-hamba Allah. Siapa namamu?" Jawabnya, "Ayahku memberiku nama Sa'dun." Aku bertanya, "Yang terkenal dengan sebutan Sa'dun Majnun?" Ia menjawab, "Ya, itulah aku." Aku bertanya lagi, "Siapakah orang-orang mulia yang engkau berwasilah dengannya?" Sahutnya, "Mereka adalah orang-orang yang berjalan seperti jalannya orang yang telah menjadikan kerinduan sebagai matlamat hidupnya. Dan ia telah mengasingkan diri dari dunia sebagaimana orang yang hatinya telah dikuasai oleh sesuatu." Kemudian ia berkata, "Wahai Dzun-Nun, aku telah mendengar bahwa engkau berkata, 'Aku ingin mendengar asbab makrifat.'" Aku menjawab, "Aku ingin mendapat manfaat dari ilmumu." Kemudian ia membaca dua bait syair yang artinya:

Hati orang-orang arif selalu mengingat Allah swt.,
ia selalu merindukan-Nya
sehingga ia membuat rumah di dekat-Nya
Ia sangat iulus dalam mencintai dan merindukan
Tuannya sehingga tidak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi kerinduannya

( Kitab Raudh, hal 23 )





Read More or Selengkapnya..

What Does This Blog Talk? Blog ini Bicara Tentang...

Blog ini berusaha menyampaikan kutipan-kutipan ayat-ayat suci Al Qur'an maupun hadits-hadits Nabi SAW, mengenai keutamaan melaksanakan ibadah haji dan umroh. Semoga bermanfaat ya...

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Romantico by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP