Senin, 14 Desember 2009

Bab 4 Hakikat Haji Bag 3

Yang kedua adalah pemandangan yang menunjukkan perasaan cinta dan rindu. Dan hal itu tampak jelas dari keadaan orang yang berhaji sehingga tidak perlu untuk dibahas secara terperinci. Hubungan hamba dengan Allah swt. Ada dua macam. Yang pertama adalah ketaatan dan kehambaan, karena Allah swt. adalah Sang Pencipta dan pemilik. Hubungan ini tampak nyata di dalam shalat. Amalan shalat menampakkan ketaatan dan kehambaan. Oleh karena itu, semua perkara di dalam shalat merupakan tempat perwujudan hubungan ini. Dengan penuh kewibawaan, ketenangan, dan memakai pakaian yang pantas, dan dengan penuh adab menghadap Allah swt.. Setelah mengambil air wudhu, mula-mula dengan penuh ketenangan mengangkat tangan sampai ke telinga sambil mengikrarkan kehambaan dirinya dan mengagungkan Allah swt., kemudian bersedekap, kemudian sambil menundukkan kepala hendaknya ia mengagungkan Allah swt.. Selanjutnya, sambil meletakkan kepala di atas tanah, hendaknya seorang hamba menunjukkan ketaatan dan kelemahannya, dan lidahnya selalu mengikrarkan kebesaran Allah swt.. Jangan sampai ada perkataan maupun perbuatan yang bertentangan dengan kebesaran Allah swt. atau bertentangan dengan pengakuannya. Semakin banyak ketenangan di dalam mengerjakan perkara-perkara ini, maka akan semakin diterima Allah swt.. Oleh karena itu, berangkat shalat dengan berlarian dimakruhkan, memasukkan jari-jari satu tangan ke dalam jari tangan yang lain ketika duduk menunggu shalat juga makruh, menyembunyikan jari di dalam shalat juga makruh. Melirik ke sana kemari juga dimakruhkan. Memakai pakaian yang tidak sopan juga makruh. Shalat akan batal bila ia berbicara ketika shalat. Dan bila wudhu batal, shalatnya juga batal.
Hubungan yang kedua antara hamba dengan Allah swt. adalah hubungan cinta kasih. Dia adalah Dzat Yang Memelihara, Pemberi nikmat, anugerah, dan Pemilik segala sifat keindahan dan kesempurnaan. Dan di sisi lain, dalam diri manusia terdapat sumber daya untuk mencintai. Dalam sebuah syair berbahasa Urdu dijelaskan mengenali hal tersebut. Makna syair itu adalah:

Sejak zaman azali telah ditetapkan bagi setiap orang bahwa ia memuja keindahan.
Sejak kecil kebiasaanku adalah berlagak seperti seorang pecinta.
Waktu lahir, tanganku sudah mengusap-usap dada.
Tidak tahu kapan dan dengan siapa akan jatuh cinta.
Sejak masa kanak-kanakku, perasaan cinta telah merasuk dalam diriku.
Jika aku bermain-main, maka mainannya adalah mengadukan pandangan mata.
Alangkah baiknya mata yang tidak bisa menangis itu menjadi buta.
Dan alangkah baiknya hati yang tidak bersedih (karena ditinggal kekasih) itu terbakar.
Aku tidak bisa hidup bila berpisah denganmu. Tapi syukurlah, umur ini tidak kekal

Hubungan ini tampak jelas di dalam ibadah haji, karena sejak awal, perjalanan orang yang berhaji telah memutuskan hubungan dengan semua ahli keluarganya, dan meninggalkan rumahnya menuju rumah Sang Kekasih (baitullah). Ia lewati lorong-lorong dan jalan-jalan yang menuju rumah sang kekasih, Karena dua perkara inilah yang semestinya dikerjakan oleh para pecinta.

Seorang penyair berkata:
Ketidakberdayaanku telah mendatangkan warna yang baru.
Perkampungan telah aku tinggalkan, dan sekarang telah sampai ke hutan.
Aku lebih suka tanah lapang daripada taman bunga.
Aku telah membeli warna baru.
Dan hati penuh dengan keinginan.
Demi gersangnya hatiku, biarkanlah aku pergi ke hutan."
Semua kerinduan itu datangnya dari mana? Mengapa hati dipenuhi dengan kekhawatiran dan kecemasan? Karena waktu berkumpulnya para pecinta telah hampir tiba. Seorang penyair Urdu berkata:
Jika diizinkan, aku mau bergabung dengan mereka.
Karena aku dengar bahwa para pecinta besok akan berbondong-bondong datang ke rumahmu.
Dan bila seseorang keluar dari rumahnya dengan niat dan semangat seperti itu, maka pahamilah bahwa musibah adalah sesuatuyang lazim dalam perjalanan cinta.
Seorang penyair Urdu bermadah:
Wahai orang yang berjalan di atasjalan cinta, semoga Tuhan melindungimu.
Karena dijalan itu ada beberapa tempat yang penuh dengan kesukaran.
Berhati-hatilah dalam mengucapkan cinta.
Karena beban cinta itu tidak mudah untuk diangkat.

Jika perjalanan ini diniatkan untuk menjumpai kekasih maka seluruh kesukaran dan penderitaan di jalan ini akan terasa ringan. Dan sudah semestinya semua itu ditahan karena rasa rindu telah menggebu-gebu.
Setelah itu, memakai pakaian ihram juga mencerminkan cinta. Tidak ada penutup di atas kepala, tidak ada baju di atas badan, dalam keadaan layaknya seorang fakir, tidak memakai wewangian dan perhiasan. Inilah satu keadaan yang menampakkan sempurnanya kecemasan dan kekhawatiran.
Sebenarnya, keadaan seperti itu hendaknya dimulai sejak mulai keluar dari rumah. Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa yang paling utama adalah memakai pakaian ihram dari rumah. Akan tetapi karena setelah memakai pakaian ihram banyak sekali perkara-perkara yang dilarang, dan sebagian orang yang biasa hidup mewah tidak bisa berlama-lama dalam keadaan seperti itu, maka Allah swt. dengan sifat rahim-Nya membolehkan untuk tidak memakai pakaian ihram sejak dari rumah, karena di dalamnya mengandung banyak kesulitan dan kepayahan. Akan tetapi, setelah dekat dengan rumah Kekasih, hendaknya orang yang berhaji dengan penuh perhatian memasuki rumah Kekasih dalam keadaan seperti di atas, yakni dalam keadaan rambut yang acak-acakan, pakaian yang kotor seperti pakaian orang gila, dan badan yang kotor seperti halnya orang yang mabuk asmara. Hal inilah yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya:
“Orang yang menunaikan haji adalah yang rambutnya acak-acakan dan badannya kotor.” Yakni banyak debu jalan yang menempel di rambut dan badannya.
Keadaan itulah yang dibangga-banggakan oleh Allah di hadapan para malaikat dengan firman-Nya: “Lihatlah kalian para peziarah rumah-Ku, mereka datang dalam keadaan rambut acak-acakan dan badan yang penuh dengan debu.”
Setelah itu, hendaknya mengucapkan Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika Laa Syariika laka Labbaik dengan penuh rasa cinta. Arti dari kalimat itu adalah, “Aku hadir, ya Allah, aku hadir, tidak ada sekutu bagimu, aku hadir, aku hadir.” Juga hendaknya diucapkan dengan suara yang keras dan lantang. Dan hal inilah yang dimaksud oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya:
"Haji yang paling baik adalah yang keras suaranya dalam mengucapkan talbiyah dan yang paling banyak mengalirkan darah binatang kurban.”

0 komentar:

What Does This Blog Talk? Blog ini Bicara Tentang...

Blog ini berusaha menyampaikan kutipan-kutipan ayat-ayat suci Al Qur'an maupun hadits-hadits Nabi SAW, mengenai keutamaan melaksanakan ibadah haji dan umroh. Semoga bermanfaat ya...

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Romantico by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP